Manusia pada prinsipnya adalah homo religios, yaitu makhluk beragama. Beragama dalam perspektif Islam bukanlah kepentingan Tuhan, tetapi untuk kemas-lahatan umat manusia itu sendiri. Beragama akan menumbuhkan kesadaran eksistensi-nya, dari mana ia berasal dan ke mana akan kembali. Manusia yang sanggup memahami dan menghayati eksistensinya, tentu aklan mampu memaknai hidupnya.

Diutusnya para nabi dan rasul sesungguhnya dalam kerangka memberikan contoh mengenai tipologi manusia yang sempurna dalam menjalani dan memaknai hidupnya. Dan di tangan merekalah ter-genggam “obor” yang dapat memberikan pe-nerangan batin dan pencerahan akal piki-ran. Maka dalam terminologi Alquran mere-ka dikategorikan sebagai uswatun hasanah, yaitu contoh yang baik bagi umat manusia.

Secara garis besar ada tiga tahapan atau maqam untuk mencapai kualifikasi manusia sempurna. Pertama, dzikir atau ta’alluq pada Tuhan. Yaitu berusaha mengingat dan mengikatkan kesadaran hati dan pikiran kepada Allah. Di mana pun seorang berada, dia tidak boleh lepas dari berpikir dan berdzikir kepada Tuhannya.

Kedua, takhalluq. Yaitu secara sadar meniru sifat-sifat Tuhan sehingga seorang beriman memiliki sifat-sifat mulia sebagaimana sifat-Nya. Proses ini bisa disebut proses internalisasi sifat Tuhan ke dalam diri manusia. Dalam konteks ini kalangan sufi biasanya menyandarkan pada hadist nabi yang berbunyi lakhallaqu bi akhlaqi Allah, yang artinya berperilakulah kamu sekalian dengan sifat-sifat Allah.

Ketiga, tahaqqua. Yaitu suatu ke-mampuan untuk mengaktualisasikan kesa-daran dan kapasitas dirinya sebagai seorang beriman yang dalam dirinya sudah dido-minasi sifat-sifat Tuhan sehingga tercermin dalam perilakunya yang serba suci dan mulia. Maqam tahaqquq ini sejalan dengan hadist Qudsi yang digemari kalangan sufi yang menyatakan bahwa seorang beriman yang telah mencapai martabat sedemikian dekat dan intimnya dengan Tuhan, akan melihat kedekatan hamba-Nya.

Ketika manusia sudah melalui tahapan ta’alluq, takhalluq, dan tahaqquq, seorang beriman akan mencapai derajat khalifah Allah dengan kapasitasnya yang perkasa tapi sekaligus penuh kasih sayang.