Rasul s.a.w. bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslimin dan muslimah.” (H.R Ibnu Adi dan Baihaqi, dari Anas r.a). Pada hadits di tesebut, bermakna umum. Baik ilmu agama maupun sains dan teknologi. Sehingga dalam pendidikan Islam, ilmu agama dan ilmu umum diberikan pada anak didik dengan porsi yang sama besarnya dan didukung oleh media yang menunjang terhadap pendalaman ilmu keduanya.

Ilmu agama diajarkan untuk membentuk kepribadian Islam yang unggul pada anak didik. Untuk itu, saat mengajar guru pun tidak asal nyablak. Tapi selalu menekankan peran agama sebagai aturan hidup dengan mengkaitkan setiap mata pelajaran dengan akidah Islam dan hukum-hukum Islam. Guru juga selalu mengingatkan anak didik akan kehidupan mereka di dunia dan akhirat serta hubungan erat dua kehidupan itu. Sehingga cara berpikir dan berperilaku anak didik disandarkan pada aturan hidup Islam. Makanya mengenal Islam lebih dalam wajib hukumnya bagi tiap individu (fardhu ain), nggak boleh diwakilkan. Karena berkaitan dengan masa depan kita di akhirat. Masing-masing lho dihisabnya.

Sementara pengetahuan sains dan teknologi disajikan untuk mempersiapkan generasi yang punya keahlian dalam memanfaatkan alam semesta yang telah Allah anugerahkan untuk kemaslahatan umat.

Rasul pernah mengutus dua orang shahabatnya ke negeti Yaman untuk mempelajari teknologi pembuatan tank kayu pelempar batu (dababah/manjanik). Beliau pun menganjurkan kaum wanita agar mempelajari ilmu tenun, menulis, dan merawat orang-orang sakit (pengobatan). Rasul bersabda, “Hiasilah wanita-wanita kalian dengan ilmu tenun.(H.R al-Khatib dari Ibnu Abbas r.a)

Tidak hanya antidikotomi, sistem pendidikan juga bisa diakses siapa saja meski beda agama, suku, dan ras. Nggak pake’ komersialisasi karena semua biaya pendidikan serta pengadaan media dan sarana pendidikan ditanggung oleh negara. Terus nih, nggak pake’ lama apalagi sampai menunggu anggaran tahun depan untuk merenovasi bangunan yang sudah diujung ambruk.

Produk sistem pendidikan Islam

Untuk mengukur kesuksesan sebuah model pendidikan, pastinya orang meliat dari kualitas lulusannya. Kita tidak asal ngomong kalo sistem pendidikan Islam itu memang unggul bin berkualitas. Buktinya, bejibun ilmuwan-ilmuwan Islam yang mampu ngasih jalan dan menjadi inspirator perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tidak cuma lokal di negeri Islam, tetapi sampai Eropa dan seluruh dunia. Ckckck…!

Sobat, di antara mereka adalah Ibnu Khaldun. Dunia mengenalnya sebagai seorang ilmuwan muslim yang mahir dalam bidang sosiologi dan ilmu sejarah. Nama lengkapnya Abu Said Abd Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al Hadrami al Ishbili. Beliau populer berkat sebuah buku masterpiece-nya berjudul Muqaddimah (Pendahulan) yang mengupas tuntas mengenai filsafat sejarah dan sosiologi. Di dalamnya, beliau menggambarkan tanda-tanda kemunduran Islam dan jatuh bangunnya kekhalifahan melalui pengalamannya selama mengembara ke Andalusia dan Afrika utara.

Ada juga Ibnu Haitham. Dialah bapak ilmu optik yang mengurai bagaimana kerja mata mencerna penampakan suatu obyek. Nama lengkapnya Abu al-Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham. Publik Barat mengenalnya sebagai Alhazen. Penelitiannya mengenai cahaya telah memberikan ilham kepada ahli sains Barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler menciptakan mikroskop serta teleskop.

Dalam bidang kedokteran ada Abu Bakr Muhammad bin Zakariya ar-Razi (Razes [864-930 M]) yang dikenal sebagai dokter Muslim terbesar atau pakar kedokteran, Abu Ali Al-Hussain Ibn Abdallah Ibn Sina (Avicenna [981-1037 M]), serta Ibnu Rusyd yang merupakan filosof, dokter, dan ahli fikih Andalusia. Bukunya yang terpenting dalam bidang kedokteran ialah al-Kulliyat yang berisi kajian ilmiah pertama kali mengenai tugas jaringan-jaringan dalam kelopak mata.

Dalam bidang matematika, ada al-Khawarizmi. Nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa al-Khwarizmi (770-840) lahir di Khwarizm (Kheva), kota di selatan sungai Oxus (sekarang Uzbekistan) tahun 770 M. Inilah penemu salah satu cabang ilmu matematika, Algoritma. Diambil dari namanya, al-Khawarizmi. Beliau juga yang menjadi penemu angka nol.

Dalam bidang kimia, ada Jabir Ibn Hayyan. Ide-ide eksperimen Jabir sekarang lebih dikenal sebagai dasar untuk mengklasifikasikan unsur-unsur kimia, utamanya pada bahan metal, non-metal, dan penguraian zat kimia. Karya-karya beliau yang masyhur Kitab al-Kimya dan Kitab al-Sabeen, sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Terjemahan Kitab al-Kimya bahkan telah diterbitkan oleh orang Inggris bernama Robert Chester tahun 1444, dengan judul The Book of the Composition of Alchemy. Buku kedua (Kitab as-Sabeen), diterjemahkan juga oleh Gerard Cremona. Lalu tak ketinggalan Berthelot pun menerjemahkan beberapa buku Jabir, yang di antaranya dikenal dengan judul Book of Kingdom, Book of the Balances, dan Book of Eastern Mercury.

Dalam bidang geografi, ada al-Idrisi, orang Barat menyebutnya Dreses. Al-Idris (1099-1166) dikenal oleh orang-orang Barat sebagai seorang pakar geografi, yang telah membuat bola dunia dari bahan perak seberat 400 kilogram untuk Raja Roger II dari Sicilia. Globe buatan al-Idrisi ini secara cermat memuat pula ketujuh benua dengan rute perdagangannya, danau-danau dan sungai, kota-kota besar, dataran serta pegunungan. Beliau memasukkan pula beberapa informasi tentang jarak, panjang dan ketinggian secara tepat. Bola dunianya itu, oleh Idris sengaja dilengkapi pula dengan Kitab al-Rujari (Rogers Book). Wuih, super keren deh!

Kembali ke ideologi Islam!

Sobat, lahirnya ilmuwan-ilmuwan Islam jempolan yang mendunia seperti dipaparkan sebelumnya, bukti nyata gemilangnya Islam yang diterapkan sebagai ideologi negara untuk mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Bahkan nggak sedikit ilmuwan Barat yang mengakui peran ilmuwan Islam yang sangat besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia.

Seperti Montgomerry Watt, “Peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi dinamonya, Barat bukanlah apa-apa.” Atau Jacques C. Reister, “Selama lima ratus tahun Islam menguasai dunia dengan kekuatan, ilmu pengetahuan, dan peradabannya yang tinggi.” (O. Solihin, Yes! I am MUSLIM, hlm. 321 dan 325)

Pengakuan ini tentu tidak akan keluar kalo model pendidikan yang dipakai di negeri-negeri Islam seperti di Indonesia, masih dikotomi alias menduakan ilmu agama dan sains teknologi. Sistem pendidikan Islamlah yang mampu mengikis dikotomi pendidikan dan mendongkrak kualitas pelajar Islam. Karena itu, hanya ketika Islam diterapkan sebagai ideologi sistem pendidikan Islam bisa terlaksana dengan sempurna. Semua pelajar Islam akan dibekali ilmu agama sekaligus iptek. Sehingga agama oke, ipteknya juga oke. Kini, saatnya kembali ke… ideologi Islam. Islam yang diterapkan sebagai ideologi negara. Oke?