Jumat, 16 Juli 2010

Buku Panduan dan Kartu Peserta Prakerin

Jumat ini kami lagi-lagi berharap ada pekerjaan buat kami. Manusia memang aneh ya, kalau tidak ada pekerjaan ngeluh, dikasih pekerjaan malah tambah ngeluh, jadi heran. However, kami butuh pekerjaan minimal untuk membunuh waktu, daripada nganggur2 g jelas kaya kemaren2, sungguh tidak enak. bisa berjam2 kami menunggu waktu pulang. Pagi ini kami ke HCDC dahulu sebelum ke Pokja TI untuk mengambil buku petunjuk pelaksanaan prakerin. Buku itu dan kartu peserta prakerin (yang sudah kami terima pada hari kedua diklat) merupakan tiket untuk mendapatkan sertifikat telah melakukan praktek kerja industri dan bisa dikatakan jimat agar “duit pesangon” kita cair, hehehe. Lumayanlah satu hari Rp 12.500, hehehe, cukup buat bayar kosan. hahahaha.

Setelah dari sana, kami kembali ngangkot ke pabrik. Ketemu lagi dengan Pak Kardin. Kasihan ya Pak Kardin, beliau bekerja sendirian di ruangan kecil di mana tidak ada hiburan sama sekali, even televisi. Heum, kalau aku udah g tahan tuh di sono, hahaha. Kali ini, meski nanti siang bapaknya ada rapat, beliau mau menyempatkan waktunya buat kami. Beliau menanyakan tentang tema apa yang akan kami bahas pada kerja praktek kali ini. Mulai dari si Bibit yang tertarik untuk mengkaji penjadwalan mesin menggunakan teori antrian. Ia akan berbicara banyak tentang penjadwalan EAF yang jumlahnya 2 buah, dilayani oleh 1 Laddle Furnace, dan 1 Laddle Furnace dilayani 2 buah CCM. Bagaimana agar mesin-mesin tersebut tidak bertubrukan atau istilahnya tidak ada yang idle, semuanya bekerja sesuai waktu. Data yang ia butuhkan adalah waktu proses masa lalu yang bisa diambil dari heat report (laporan peleburan yang ada pada ruang operator). Kemudian diteliti distribusi apa yang muncul dan kemudian diolah menggunakan pendekatan teori antrian.

Si Lucky, masih terobsesi dengan masalah lingkungan kerja yang tidak sesuai. Ia akan mengkaji analisis dan usulan tentang lingkungan kerja yang sesuai dengan kaidah K3. Namun tempatnya bukan di sini, ia harus berhadapan dengan divisi K3LH yang memang berususan dan menangani hal ini. Pak Sukardin pun tidak berjanji bisa membantu karena itu bukan wilayahnya, sudah masuk wilayah K3LH, yang bisa ia lakukan adalah meminta Pak Sudiratna untuk membuat surat ijin pengambilan data pada K3LH. Lucky akan bermain dengan kuesioner dan berharap usulannya akan didengarkan oleh pihak K3LH.

AKU? Hemmm, mengekor pada latar belakang dan backgroundku yang berada dalam wilayah pengendalian kualitas statistik, langsung saja aku ngomong ke Pak Kardin kalau aku mau mengkaji masalah pengendalian kualitas. Aku mau menggunakan metode six sigma sebagai tools pengendalian kualitas. Namun setelah membaca skripsi Mbak Uchu, mahasiswa Untirta yang juga KP di sini, aku berpikir lagi ingin menggunakan six sigma. Mbak Uchu telah mengkaji hal ini namun hasilnya adalah kurang bisa diimplementasikannya metode six sigma karena keterbatasan anggaran dan waktu. Aku jujur saja bilang seperti itu ke Pak Kardin. Beliau kemudian berkata, memandangnya bukan dari tidak bisa diaplikasikan, namun peluang untuk diaplikasikan. Heum, membangun dan bijaksana sekali.
Selanjutnya aku dibawa ke bagian QC (Quality Control) Pabrik Billet Baja yang letaknya di sebelah Pokja TI persis. Di sana aku bertemu dengan supervisor PK (Pengendalian Kualitas) Pabrik Billet Baja, Bapak Iriyanto. Ia sangat wellcome orangnya, beliau mengatakan koq baru datang sekarang, kalau kemaren (katanya) aku diminta mengukur billet bengkok. Syukur aku datang sekarang, hahaha. Proyek peningkatan kualitas ini akan diberikan kepada aku dan Pak Kuat (staf bagian QC). Namun karena Pak Iriyanto lagi sibuk, dan Pak Kuat, yang menjadi partner saya dalam mengerjakan proyek ini tidak berangkat karena anaknya lagi sakit, maka pengerjaan proyek ditunda besok senin. Heum, asyiknya, akhirnya dapat pekerjaan yang sesuai dengan bidang keahlianku. Hahaha. Bapaknya malah minta diajari software Minitab, hehehehe