Kamis, 15 Juli 2010

Hari kedua di Pokja TI BSP, aku berharap (kedua temanku juga berpikiran yang sama) kita akan dapat, yah, pekerjaan lah, daripada nganggur2 kaya kemaren, ga enak banget dah. Cuma baca2 laporan KP yang kami sendiri sebelumnya juga sudah mempersiapkan hal itu. Saat tiba di pokja TI, bapaknya tidak ada di ruangan, ternyata beliau lagi ngobrol di ruang PPC yang letaknya ada di sebelah. Feelingku udah g enak, yah, mungkin kita nganggur lagi deh hari ini.

Ternyata tidak juga, ya meskipun kami ditinggal sama pak Kardin, setidaknya kami dititipkan kepada Bapak Yusuf, training koordinator Pabrik Billet Baja, yang pada hari ini memberikan porsi kepada anak didiknya, prakerin yang ditempatkan di Pabrik Billet Baja, untuk melihat proses peleburan (melting) yang terjadi di BSP. Oke lah, akhirnya kami bersama anak ITB (2), STTA Yogyakarta (2), UNS (1), berkunjung ke BSP menyaksikan dahsyat proses peleburan Billet Baja.

Awal ke sana perasaan ngeri menyelimuti, bayangkan, pabrik segitu gedhenya, dengan alat2 berat disekelilingnya, panas dan debu menjadi sarapan utamanya. Masuk ke sana kami langsung disuguhi dengan pemandangan slag yang jatuh dari laddle. Subhanallah, baja cair yang suhunya seribu enam ratus derajat celcius, yang satu butirnya mampu menembus kepala hingga kaki manusia dan membelahnya hingga menjadi dua ada di depan kami. Percikan-percikan itu “muncrat-muncrat” (kata orang jawa) dan tidak ada tanda bahaya di sekitar itu. Orang lalu lalang disekitarnya tanpa peringatan, tanpa pagar yang membatasi, dan tinggal lewat aja. Duh, ngeri banget dah.

Naik ke lantai dua, kita masuk tempat peleburan di mana terdapat banyak peralatan yang juga membuat kami bergidik. Ada crane, EAF (Electric Arc Furnace), yang boleh  dikatakan dapurnya, kemudian ada fork lift, katoda tiga phasa, laddle furnace, buanyak lagi. Kami lagsung masuk ruang operator yang luasnya kira-kira hanya 30 meter persegi. Di sana merupakan ruang pengendali katoda, pengontrol aliran bahan baku, katup aliran bahan baku, dan lain-lain. Kami diterangin bagaimana proses pembuatan billet yang ada di sana.

Awalnya bahan baku yang berupa besi sponge (hasil olahan dari DRI), scrap, kapur bakar disatukan dan dicampur jadi satu (dinamakan proses charging). Setelah semua dicampur dalam satu wadah EAF, kira-kira sepuluh menit, proses kedua dimulai, dinamakan melting atau peleburan. Katoda tiga phasa dimasukkan untuk memberikan arus listrik sekaligus melebur semua bahan baku agar menjadi baja cair. Kemudian setelah kira-kira 10-20 menit, proses ketiga dilakukan. Refining, atau pemberian (injeksi) grafit apabila kadar C dalam sampel kurang atau dilakukan injeksi oksigen apabila kadar O dalam sampel kurang. Hal ini dilakukan agar mendapat billet yang diinginkan. Selanjutnya, tahap Pouring atau penumpahan baja cair dari EAF ke Laddle Furnace untuk selanjutnya dikirimkan ke CCM yang akan mencetak baja cair menjadi billet-billet yang siap jual atau diproses kembali pada WRM (Wire Rod Mill).

Wow, sungguh menakjubkan, begitu to proses pembuatan billet baja. Kami dapat ilmu baru kali ini. Yang kami cermati pada kunjungan kali ini adalah pada lingkungan kerjanya. Benar-benar tidak aman! Mulai dari traffic line yang tidak bertanda bahaya, bayangkan, kami hampir tertabrak truk yang lagi mundur ketika mau mengambil scrap. Kemudian seperti sudah aku tuliskan di atas, tempat tumpahnya slag tidak ada rambu-rambu bahaya di sekitarnya. Penggunaan APD (Alat Pelindung Diri) juga masih perlu ditingkatkan. Banyak pekerja yang tidak memaki baju tahan api ketika melakukan proses repairing refractory pada EAF, sarung tangan juga jarang dipakai. Yang paling mengesalkan adalah tidak dipakainya masker! Pada saat kami diajak berkunjung ke gudang bahan baku, aturannya adalah kami harus memakai masker karena dikhawatirkan debu, scrap kecil, atau material akan masuk ke paru-paru dan mengganggu pernapasan kami. Namun apa kata pekerja sana, alah ga apa2 laki-laki koq, itung-itung oleh2 dari sini. Udah Gila kali ya mereka!