Pada bahasan sebelumnya, telah diulas mengenai teori analisis korelasi linier dan jenis-jenis koefisien yang digunakan untuk menaksir nilai koefisien korelasi populasi. Nah, selanjutnya akan dibahas mengenai salah satu koefisien korelasi sampel yang paling banyak digunakan untuk menaksir koefisien korelasi populasi, yakni: Koefisien Korelasi Pearson.

Yup, sesuai dengan namanya, koefisien korelasi pearson  ditemukan oleh Pearson. Koefisien ini dilambangkan dengan huruf r, yang menyatakan hubungan keeratan antarvariabel. Koefisien korelasi Pearson digunakan untuk mengestimasi korelasi dari data yang berjenis interval atau rasio atau jenis statistika parametrik (itulah mengapa koefisien ini sering dipakai).

Nilai r dapat dicari dengan rumus sebagai berikut:

Prosedur Uji Hipotesis
Untuk menguji apakah terdapat hubungan linier antara dua buah variabel, dapat digunakan uji hipotesis sebagai berikut:
H0: ρ = 0 (tidak ada hubungan linier)
H1: ρ tidak sama dengan 0 (ada hubungan linier)
Taraf keberartian (α) : 0,05
Daerah kritis: t hitung > t tabel dan t hitung < -t tabel
Perhitungan: ; t tabel = t(α/2,v=n-2)

Sedangkan untuk menguji koefisien korelasi dengan koefisien korelasi taksiran (ρ0) dapat digunakan uji hipotesis sebagai berikut:
H0: ρ = 0,9 (hubungan linier sangat erat)
H1: ρ < 0,9 (hubungan linier tidak sangat erat)
Taraf keberartian (α) : 0,05
Daerah kritis: Z hitung < – Z tabel
Perhitungan: ; Z tabel = Zα = 1,645