1 Maret 2010M / 15 Rabi’ul Awwal 1431 H

Kullu nafsin dza iqatul maut,,, setiap yang bernyawa akan mati….. Sebuah penggalan yang diambil dari kitab suci Alquran ini hendaknya bisa menjadi peringatan bagi kita semua,,, ya, bagaimana tidak, semua manusia pasti akan mati,, entah itu kapan, hanya Allah swt yang tahu, bisa sejam lagi, dua tahun lagi, atau lima puluh tahun lagi,, tiada yang tahu. Kalau tidak mau mati,ya tidak usah hidup, kalau mau hidup ya harus mau mati. Dan sekarang kita telah memilih untuk hidup, jadi ya harus siap untuk mati,, begitulah kira-kira penggalan kata-kata yang diucapkan oleh pembawa acara sekaligus yang mewakili keluarga pada acara hormat ketika kakek saya meninggal. Sungguh kata-kata yang menurut saya menyentil kita semua.

Ketika saya mendapat berita bahwa kakek saya meninggal, sungguh berita yang menurut saya begitu mendebarkan,,, bagaimana tidak, pagi-pagi sebelum berangkat ke Semarang (aku merupakan mahasiswa salah satu universitas negeri di Semarang asal Kudus) aku masih sempat berjabat tangan dengan beliau. Namun pada saat aku berjabat tangan, ada hal strange yang lain dari biasanya. Biasanya, setelah mencium kedua tangannya, beliau langsung melepas dan berkata sesuatu, namun pagi itu tidak. Beliau yang masih terbujur di atas tempat tidur (sudah satu tahun kakekku tidak bisa bangun dari tempat tidur dikarenakan sakit yang dideritanya) seakan tidak mau melepas tanganku. digenggam erat tangan kananku sampai nenekku berkata kepada kakekku untuk melepasny, “sampun mbah”, begitu katanya.

Sesampai di semarang, pukul setengah sembilan pagi, tidak ada firasat akan hal ini. Langsung saja aku ngampus karena ada rapat laboratorium yang akan membahas praktikum untuk semster ini. Selesai rapat,setelah makan ma temenku, di kos aku dapat sms dari ibuku yang mengabarkan hal itu. Sungguh aku syok. langsung kutelepon balik dan menanyakan kebenaran hal itu, sekaligus kapan kakekku menghembuskan nafas terakhir dan kapan dipusarakan. secepat kilat aku lgsung shalat dhuhur, dan bergegas untuk pulang ke rumah (kalau dihitung durasi, aku baru empat jam aku di semarang).

Di bus,,, aku masih terngiang-ngiang dengan kebaikan hati beliau, kasih sayangnya kepada semua cucu-cucunya dan ketaatannya kepada agama Allah.. hal yang terakhir ini yang aku soroti. Dalam usia kepala delapan, kakekku masih secara rutin shalat malam, rajin mengikuti pengajian, tidak pernah bolong shalat jama’ah di masjid dan puasa wajib yang tidak pernah absen juga, baru satu tahun terakhir ini,saat beliau sakit, hanya amalan wajib saja yang masih beliau kerjakan (misal. shalat sambil tidur).

Sesampai di rumah,,sudah banyak orang takziyah. Mereka semua berkata kalau semua itu untuk mengenang jasa kakekku selama ini. Bahkan, malam harinya, aku sempat bermimpi bertemu dengan kakeku (meskipun tidak langsung).Saat itu aku sedang shalat di masjid (tidak jelas shalat apa, dan aku juga tidak ingat,mungkin shalat jumat karena saking banyaknya jamaah) dan berada di shaf yang agak belakang. Pada saat aku sujud aku sempat melihat kakekku shalat di shaf bagian depan, pada saat berdiri dan akumelihat shaf bagian itu di mana ku melihat kakekku, namun yang berdiri di sana orang lain, bukan kakekku, padahal aku yakin kalau tadi adalah kakekku,,,

Ya sudah,,, semua sudah berlalu.
Farewell Grand Pa, your memories are always in my heart.