Secara sederhana pengertian taubat ialah kembali kepada Allah atau membersihkan diri dari segala kotoran. Karena pada hakekat sebenarnya manusia adalah fitrah, suci atau bersih dari dosa, dari kotoran. Kullu mauludin yuladu ‘ala al fitrah (setiap manusia pada dasarnya adalah suci).

Di dalam pergaulan di kehidupan jagad raya ini, manusia telah melakukan berbagai hal yang termasuk dosa dan salah, baik terhadap sesama manusia atau makhluk Allah lainnya, atau pun terhadap Allah sendiri yaitu dalam mengerjakan berbagai macam pelanggaran. Pada posisi kesadaran dalam hatinya dan kemudian direalisasikan dalam tindakan konkrit inilah yang disebut taubat.
Adapula yang menyebutkan bahwa taubat adalah penyesalan dari apa yang telah dikerjakan yang membuat pihak lain merasa dirugikan oleh polah tingkahnya yang selanjutnya menuntut pengembalian seperti semula dengan cara penyesalan. Sehingga ada yang merumuskan bahwa taubat itu meliputi aspek-aspek: meninggalkan perbuatan dosa (kesalahan), atau penyesalan, memohon ampun kepada Allah (bila dosa atau salahnya kepada Allah), atau memohon maaf kepada yang disalahi (bila salah kepada sesama manusia), dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan salahnya tersebut.

Allah Menyukai Orang Yang Bertaubat
Allah sangat menyukai orang atau hambanya yang mau bertaubat dari kesalahan atau dosanya. Dalam Q.S. Al Baqarah ayat 222, Allah telah menyatakan bahwa Ia sangat menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyucikan dirinya sari dosa. Kecintaan Allah itu laksana seseorang yang kehilangan barangnya yang sangat dicintainya kemudian ia menemukannya kembali. Hal ini dinyatakan oleh Rasul-Nya sendiri, “Sesungguhnya Allah lebih suka menerima taubat seorang hamba-Nya melebihi dari kesenangan seseorang yang telah menemukan kembali dengan tiba-tiba barangnya yang hilang.” (H.R. Bukhori & Muslim). Sabda Rasulullah yang lain, “Sesungguhnya Allah membentangkan rahmat (kasih sayang)-Nya di waktu malam hari supaya bertaubat orang-orang yang berdosa di siang hari, juga mengulurkan tangan kasih sayang-Nya di siang hari agar bertaubat orang yang berbuat dosa di malam hari. Kasih sayang Tuhan yang seperti itu berjalan terus hingga hari kiamat kelak.” (H.R. Muslim).
Dari beberapa yang telah disampaikan di atas menunjukkan betapa kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Kasih sayang yang tak terbatas, tak bertepi. Dan ini pulalah yang diharapkan supaya manusia juga memiliki sifat Tuhan yang kasih dan sayang kepada sesama.
Diceritakan oleh Fahrurrozi bahwa para malaikat sering berusaha untuk melihat amal-amal yang dilakukan oleh manusia di bumi pada Lauhul Mahfuz, tetapi sering kali ketika malaikat hendak melihat amal jelek manusia, tirai tiba-tiba ditutupkan sehingga malaikat tidak dapat melihatnya lagi. Setelah itu malaikat berkata, ”Maha Suci Tuhan yang menampakkan yang indah-indah dan menutup yang jelek-jelek.” Para malaikat pun ingin sekali turun ke bumi untuk melihat realitas yang sebenarnya di bumi. Apakah semuanya yang di bumi itu indah.
Selain itu, malaikat juga menemukan dua amalan yang dilakukan oleh penduduk bumi tetapi tidak dapat dilakukan oleh penduduk langit. Kalau penduduk bumi melakukan thawaf, maka penduduk langit pun bisa melakukannya. Kalau penduduk langit bertasbih, penduduk bumi pun bertasbih pula. Namun ada amalan yang hanya bisa dilakukan oleh penduduk bumi. Pertama, membantu orang-orang miskin. Kedua, jeritan para pendosa yang menyesali kemaksiatan yang telah dilakukannya. Allah berfirman, “Tangisan pendosa lebih Aku cintai dari pada gemuruhnya suara orang bertasbih.”

Segera Bertaubat
Allah menganjurkan kepada mekhluk-Nya yang berdosa untuk segera bertaubat, tidak menunda-nunda. “Bersegeralah kamu mencari ampunan Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Ali Imron: 133).
Di dalam ayat tersebut Allah menganjurkan supaya manusia segera bertaubat kepada Allah dan segera pula menjalankan kebenaran dan sekaligus memperbanyak amal salihnya. Karena memperbanyak amal salih atau menjalankan perintah-Nya juga termasuk bagian dari taubat kepada Allah. “Orang-orang yang bertaubat dan beriman dan mengerjakan kebaikan, maka kejahatan mereka diganti oleh Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan barang siapa bertaubat dan mengerjakan kebaikan, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya” (Q.S. Al Furqan: 70–71).
Dalam pandangan Hasbi Ash-Shiddiqie dalam tafsir Al Bayan, ayat tersebut maksudnya adalah, “Barang siapa yang meninggalkan maksiat serta menyesali apa yang telah dikerjakan lalu mengerjakan amalan yang salih maka ia disebut bertaubat.”
Secara lahir ayat tersebut telah menerangkan bahwa amal-amal yang baik telah menyebabkan diampuninya dosa. Kalau toh setelah bertaubat kemudian karena sesuatu hal ia lalu mengerjakan maksiat kembali, maka Allah pun akan mengampuninya. Di dalam sebuah hadist, Rasulullah bersabda, “Siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat (kiamat), maka Allah menerima taubat dan memaafkannya.” (H.R. Muslim). Sabdanya yang lain, “Sesungguhnya Allah tetap menerima taubat hamba-Nya sebelum nyawanya sampai di tenggorokan.” (H.R. Tirmidzi).
Dua hadist yang disebutkan di atas di samping saling menguatkan, mengandung maksud bahwa ampunan Allah sangatlah luas, tidak terbatas. Taubat dapat ditempuh dengan memperbanyak amal salih baik kepada Allah yang berupa ibadah atau pun berupa muammalah yakni amal kebajikan terhadap sesama, baik sesama manusia atau makhluk Allah yang lainnya. Dalam sebuah kisah dari Rasulullah saw bahwa ada perempuan pelacur pada masa Bani Israil yang memberikan minum kepada anjing yang kehausan kemudian pelacur tersebut diampuni dosanya oleh Allah.
Dikisahkan pula ada seorang sufi besar, Abu Bein Azem, yang bangun di tengah malam. Kamarnya bermandikan cahaya. Di tengah-tengah cahaya itu ia melihat sesosok makhluk, seorang malaikat sedang memegang buku. Abu Bein bertanya, “Apa yang sedang Anda kerjakan?” “Aku sedang mencatat daftar semua pecinta Tuhan.” Abu Bein ingin sekali namanya ikut tercantum, dengan harap cemas ia coba melongok daftar itu. Namun kemudian ia gigit jari, kecewa karena namanya tidak tercantum di situ. Ia pun bergumam, “Mungkin aku terlalu kotor untuk bisa menjadi pecinta Tuhan, tetapi sejak malam ini aku berniat untuk mencintai sesama.”
Esok harinya Abu Bein terbangun lagi. Kamarnya terang benderang. Malaikat yang sama pun telah hadir. Abu Bein terkejut bukan main, sekarang namanya tercantum paling atas. Ia pun protes, “Aku bukan pecinta Tuhan, aku hanyalah pecinta manusia.” Kata malaikat, “Baru saja Tuhan berkata kepadaku, ‘Engkau tidak akan pernah dapat mencintai Tuhan sebelum engkau mencintai sesama.’”