Antara Realita-Fakta Yang Terbalut Fiksi-Ilusi

Saat ini barangkali ada logika yang jungkir balik. Dokter ditinggalkan pasiennya setelah ada bocah kecil yang bernama Ponari yang telah menemukan batu “petir”. Sekitar lima puluh ribu manusia “sakit” berduyun-duyun ke tempat Ponari hanya untuk mendapatkan “air berkah” yang telah dicelupi batu petir. Sebuah fenomena di mana setelah Jombang diguncang dengan Ryan sang “penjagal”, sekarang kembali digoyang dengan Ponari sang “penyembuh”.

Para dokter berkomentar, apa yang dilakukan oleh Ponari adalah sistem sugesti. Seseorang yang telah tersugesti sembuh, ia pun dengan sendirinya akan merasakan kesembuhan dari penyakit yang selama ini dideritanya. Sebenarnya bukan hanya Ponari saja, dokter pun sebenarnya juga mempunyai peran untuk memberikan sugesti. Misalnya ketika ditanya, sakitnya apa dok? Dengan santai dan tersenyum sang dokter menjawab, tidak apa-apa, hanya butuh istirahat saja. Padahal kalau dokter mau jujur, penyakit yang diderita si pasien berat juga. Namun sang dokter ingin memberikan sugesti positif agar pasiennya tenang, happy, dan ada semangat untuk sembuh. Nah, sekarang terbukti kalau sugesti positif yang diberikan oleh Ponari lebih ampuh dan manjur untuk mengobati pasien daripada sugesti yang diberikan oleh para dokter.

Sekarang pertanyaannya, mengapa orang-orang bisa tersugesti seperti itu? Yang pertama, keputusasaan penderitaan yang bertahun-tahun dan menghabiskan biaya yang tidak sedikit di sisi lain, datang info Ponari yang merupakan harapan baru untuk kesembuhannya. Kedua, adanya gelombang manusia yang berduyun-duyun sehingga individu tak sanggup lagi membendung tarikan komunitas itu. Apalagi, tarikan komunitas telah memberikan bukti nyata bahwa mereka yang ke Ponari benar-benar sembuh atas pengobatan yang dilakukannya. Ketiga, biaya dokter yang dari hari ke hari semakin mahal, itu pun belum tentu ada garansi sembuh.

ponari

Berbeda dari perspektif dokter, para ulama malah berkomentar bahwa ke Ponari adalah musyrik. Jujur saja, kami bertanya-tanya mengapa para ulama akhir-akhir ini mudah mengatakan syirik atas sebuah fenomena. Mengapa proses panjang dari pergulatan batin seseorang dalam spiritual dihakimi dalam prosesnya?

Coba kita bandingkan dengan seseorang yang pergi ke dokter. Pertanyaannya apakah yang menyembuhkan sakit seseorang itu dokter dengan obatnya ataukah Allah? Kalau jawabannya dokter, maka seseorang yang pergi ke dokter pun dapat dihukumi musyrik! Alasannya adalah menganggap dokter dan obatnya dapat menyebabkan sembuhnya seseorang dari peyakit. Kemudian timbul pertanyaan baru, mengapa ulama tidak menghukumi syirik kepada para pasien yang datang ke dokter? Apakah dokter dianggap lebih rasional ketimbang Ponari?

Sebenarnya, baik dokter maupun Ponari merupakan sarana, dan semua tergantung dari siapa yang memaknai sarana itu. Apakah ia akan menganggap sarana sebagai sarana atau justru sarana dianggap sebagai tujuan? Bila seseorang menganggap sarana sebagai tujuan, maka ia gagal dalam proses. Namun bila seseorang menganggap sarana adalah sarana, maka ia berhasil dalam proses. Artinya, mendatangi dokter atau Ponari yang dianggap sebagai sarana untuk proses penyembuhan, maka hal itu tidak dianggap sebagai kemusyrikan, karena di hati pasien ada keyakinan yang menyembuhkan adalah Allah, tiada yang lain, sedang dokter atau Ponari hanyalah sarananya.

Terakhir, jika ada pasien yang datang ke Ponari, jangan langsung hal ini membuat para dokter marah-marah. Barangkali ini sebagai kritik atas perilaku dokter yang mudah mencash biaya pengobatan dengan harga yang mahal sedang di Ponari cukup dengan uang seikhlasnya. Bagi para pasien, janganlah mudah percaya dengan sesuatu yang bertentangan dengan akal sehat, kecuali ada bukti yang benar-benar nyata. Semoga akal sehat dan hati yang bersih bisa menuntun ke arah yang benar.

Wallahu a’lam bish shawab

ulkhaq_redsfans@yahoo.co.id

https://languageaholic.wordpress.com