picture25

Actually, we don’t know what happens next in 2030, right? Ya, so pasti. Apa yang terjadi esok saja kita tidak tahu, apalagi di tahun 2030. Masih adakah dunia ini, sudah hancurkah, sudah kiamatkah, atau masih sama seperti sekarang? Kita tidak tahu. Namun yang bisa dipastikan adalah keadaan dunia pada tahun 2030 sudah pasti berbeda dengan keadaan dunia sekarang ini.

But, if we’re asked to fancy, imagining what happens next in 2030, what will we do? Itu merupakan pertanyaan yang sulit, sob. Apakah kita—dengan tetap berada di zona nyaman—akan menjawab dengan entengnya, “I don’t know what happens tomorrow. Karena kemarin adalah masa lalu, sekarang adalah masa depan, dan esok adalah misteri.” Hmm, sungguh jawaban yang filosofis. Ataukah kita akan menjawab dengan semangatnya, “Hey Pal, what happens next in 2030 are … … … (bla, bla, bla).”

Kedua jawaban tersebut mungkin saja akan terlontar dari mulut seseorang bila diberi pertanyaan tersebut. And belive it or not, jawaban tersebut bisa menunjukkan karakter atau sifat seseorang. Gimana caranya?


Orang yang menjawab jawaban pertama, biasanya orang yang cenderung berhati-hati dalam hidupnya, jarang berspekulasi, dan sangat memanfaatkan apa yang ada sekarang ini. Kelebihan orang ini adalah ia selalu mempergunakan perhitungan yang cermat sebelum memulai sesuatu, mengadakan survey sebelum bertindak, mempertimbangkan baik dan buruknya suatu hal, dan hasilnya biasanya sesuai dengan apa yang diharapkan. Namun, kekurangannya adalah ia jarang punya ide, gagasan, inovasi, dan hanya bersandar pada zona nyaman, status quo, atau apalah namanya, yang tentunya hal tersebut kurang bagus bagi siapa pun. Ya to? Bila orang ini merupakan seorang pimpinan dari suatu perusahaan, maka perusahaannya akan cenderung stagnan dan tidak ada inovasi-inovasi jitu atau ide-ide cemerlang yang lahir dari dirinya.

Namun orang yang menjawab jawaban kedua akan mempunyai karakter yang berkebalikan dari yang pertama. Kemungkinan ia adalah seorang yang imajinatif, bersemangat dengan hal yang baru, suka berspekulasi, dan tidak betah berada dalam zona nyaman. Kelebihan orang ini adalah ia selalu mempunyai ide cemerlang, inovasi-inovasi brilian, dan berpikiran terbuka. Namun kekurangannya adalah—karena ia suka berspekulasi—biasanya hasil yang diharapkan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan, kadang terburu-buru dalam mengambil keputusan, dan terlalu percaya pada intuisinya. Bila orang ini merupakan seorang pimpinan perusahaan, maka perusahaannya akan dipenuhi oleh ide-ide dan inovasi brilian darinya. Namun, mengenai hasil ke depannya, who knows?

So, karakter seperti apakah yang baik? Hm, keduanya tidak ada yang baik atau pun buruk, semua mempunyai kelebihan dan kekurangan. Percuma saja bila mempunyai ide yang brilian tetapi tidak mempertimbangkan baik dan buruknya, tidak melihat sumber daya yang ada, atau tidak mengadakan penelitian terlebih dahulu, emang mau dibawa ke mana perusahaan itu? Or, bila selalu mempertimbangkan baik dan buruk, menimbang bibit, bebet, dan bobotnya, tanpa mengambil langkah berani dengan menciptakan ide-ide yang baru, mau jadi apa perusahaan itu nantinya?

Kemudian, bila pertanyaan itu dilontarkan pada kita, sebaiknya apa jawaban kita? Hmm, sulit bukan? Apakah kita akan mengambil jawaban yang pertama, kedua, tengah-tengah, atau malah tidak keduanya? Yah, itu mah, terserah loe.

But anyway, whatever the answer is, yang namanya teknologi akan terus berkembang dari hari ke hari—loh, apa hubungannya? Maksudnya, tidak terpengaruh dengan jawaban tersebut, yang pasti dari hari ke hari teknologi akan terus memunculkan inovasi dan perkembangan yang tidak akan ada habisnya, sepanjang masih ada orang-orang yang terus berkarya dan otaknya tidak sepi dengan ide-ide cemerlang.

Buktinya, kita tidak pernah bisa melihat tayangan sepak bola Liga Inggris secara Live kalau tidak ada yang namanya televisi, antena, dan satelit. Apa jadinya dunia bila tidak ada alat transportasi seperti sepeda motor, kapal laut, maupun pesawat terbang. Kita akan berjalan berhari-hari lamanya bila mau pergi ke suatu tempat yang jauh letaknya. Siapa yang menyangka kalau kita bisa terhubung dengan dunia luar dengan begitu mudahnya lewat internet? Bisa saling kirim surat dengan super kilat, melihat berita secara live dari tempat yang bermil-mil jauhnya? Hm, kalau tidak ada teknologi sekaligus perkembangannya yang semakin hari semakin canggih ini, kita tidak bisa membayangkan apa bedanya sekarang dengan pada zaman batu.

Mari kita coba bergerak, melangkah, berjalan—atau apalah namanya—ke tahun 2030, atau dua puluh satu tahun lagi dari sekarang. Bagaimana keadaannya ya? Wah-wah kalau disuruh membayangkan perkembangan teknologi di tahun 2030 berarti harus lebih wah dan lebih canggih dari yang tadi donk.

Kalau menurut pandangan saya, perkembangan teknologi pada tahun 2030 marak dengan yang namanya ROBOTIKA. Zaman sekarang saja sudah banyak anak-anak yang menciptakan robot sederhana, macam robot pemadam api, yang bergerak secara otomatis mengikuti sensor panas, atau robot berbentuk anjing yang bisa bermain sepak bola mini, atau robot lucu yang bisanya bergaya, kayak gini ne.


picture1

Namun pada tahun 2030 nantinya—tetap menurut perkiraan, pandangan, dan ramalan saya—robot-robot sederhana itu sudah ketinggalan zaman. Yang ada adalah robot-robot super canggih yang tidak hanya bisa membantu pekerjaan manusia, namun juga bisa lebih. Bentuk dari robot sudah diperbarui, dibuat seperti manusia. Tidak hanya bentuknya saja, namun kesemuanya akan dibuat sama persis dengan manusia.

wd-2_robot_faceimg_assist_custom

Jadi, nantinya robot tidak hanya bertutupkan logam berwarna abu-abu yang bila diketuk akan berbunyi “thung-thung-thung”, namun robot sudah mempunyai kulit yang susunannya sama seperti kulit manusia pada umumnya, yakni mempunyai sel yang berlapis-lapis dan berfungsi sebagai indera peraba, artinya di dalamnya terdapat sensor panas dan dingin, sama seperti manusia. Tidak hanya sebatas itu saja, supaya lebih mirip dengan manusia asli, maka robot juga akan mempunyai pigmen atau warna kulit. Jadi semua kulit robot tidak akan sama warnanya, tetapi beraneka dan bervariasi, ada yang coklat, putih, hitam, kuning kecoklatan, sawo matang, dan lain-lain. Warna kulit tersebut tentunya tidak terpengaruh oleh kondisi geografis di mana robot tersebut diciptakan, karena pemberian pigmen tersebut hanya bersifat subjektif dan sesuai selera saja. Namun bila si pembuat robot menginginkan hal tersebut (warna robot sesuai kondisi geografis) juga tidak akan menjadi soal, malahan robot tersebut akan mempunyai ciri khas masing-masing yang membedakannya dengan robot lain. Misalnya robot buatan Afrika mempunyai warna kulit hitam, dari Eropa putih, Asia kuning, dan lain sebagainya, asalkan tidak menimbulkan rasisme.

Tidak hanya kulit pembungkus robot saja, namun nantinya robot juga akan mempunyai rangka sama seperti manusia. Artinya, ia akan mempunyai tulang yang terbuat dari zat kitin, tidak terbuat dari logam lagi. Dan itu artinya robot akan lebih rapuh dari sebelumnya (dari yang terbuat dari logam), ia juga bisa terkena tulang retak, patah tulang, lepas persendian, bahkan terkilir, hoho. Dan itu juga berarti robot akan membutuhkan kalsium untuk menjaga agar tulangnya tidak rapuh dan keropos. Jadi harus minum susu dong, kayak anak-anak ya, hehe. Ya ga’ lah, gilé ajé loe.

Terus, kalau ada rangka (tulang), berarti ada dagingnya juga dong. Yup, benar. Untuk membuat robot yang sama persis seperti manusia, maka harus dipikirkan hal-hal secara detail, meskipun itu hal yang kecil. Nantinya daging robot tidak akan sama persis seperti manusia, ia hanya berfungsi sebagai melekatnya tulang dan sambungan-sambungan kabel (sebagai pengganti pembuluh darah). Jadi, ia bisa terbuat dari mold, polymer, atau malah zat lain yang belum ditemukan sekarang ini.

Kemudian, kalau manusia mempunyai pembuluh darah, saraf, dan urat maupun otot, maka robot hanya mempunyai kabel dan kawat sebagai gantinya. Hal ini selain dilakukan untuk “membedakan” robot dengan manusia, juga agar lebih mudah dan simple untuk recharge. Kita tahu kalau robot tidak perlu asupan nutrisi untuk “melanggengkan” usianya, ia hanya perlu di-recharge, kaya hape aja ya. Jadi, tenaga yang dikeluarkan bukan hasil metabolisme dari pengolahan nutrisi atau makanan, namun dari arus listrik yang diisikan ke dalam tubuhnya. So, kawat berfungsi sebagai penghantar sekaligus transporter arus listrik ke semua bagian tubuh robot, dan kabel sebagai “urat dan otot”-nya. Logis, rasional, dan masuk akal bukan? Hehe.

Bagaimana dengan organ dalamnya? Ya, robot juga butuh “jeroan” pastinya. Tidak hanya tubuh dibalut kulit, daging, dan tulang saja tetapi kopong di dalam. Namun tentu saja, organ dalam robot tidak sama dengan manusia. Jantung/heart yang pada manusia berfungsi untuk memompa darah, maka jantung pada robot berfungsi untuk memompa (membangiktkan) arus listrik ke seluruh bagian tubuh, mirip motor listrik. Kemudian karena robot tidak butuh respirasi, maka paru-paru/lungs akan dialihfungsikan sebagai alat fotosintator, artinya alat yang bisa mengubah CO2 menjadi O2, ya hampir mirip dengan apa yang dilakukan tumbuhan di pagi hari. Hal ini dilakukan untuk semakin menambah kandungan oksigen bersih di udara yang ditengarai makin lama makin habis dan semakin keruh (tidak bersih lagi). Ginjal dan organ-organ pencernaan? Karena robot bisa dikatakan tidak membutuhkan itu semua, maka “tempat kosong” yang ada di dalam perut si robot bisa diisi dengan chip, board, harddrive, dll, ya semacam CPU di komputer lah. Robot kan butuh tempat untuk menyimpan data, dll kan? Terus Otak? Yah gitu aja paké nanya, otaknya komputer processor kan? Ya sama aja dengan otaknya robot, gitu aja kok repot.

Mengenai organ-organ yang berhubungan dengan indera, bisa disamakan dengan organ yang fungsinya sama seperti pada manusia. Untuk mata, nantinya robot akan lebih canggih dari manusia karena mempunyai mata yang bisa melihat tembus pandang, menembus benda yang mempunyai ketebalan maksimum sepuluh inchi (berapa centi ya???). Hidung cuma berfungsi untuk alat penangkap CO2 (seperti sudah dijelaskan di atas). Telinga robot nantinya akan mampu mendengar suara/voice dan bunyi/sound sampai radius satu kilometer! Tidak hanya itu saja, ia juga bisa mendengar jenis bunyi infrasonik dan ultrasonik. Canggih kan? Untuk lidah, karena robot tidak butuh makan, so robot tidak perlu lidah. Gigi juga tidak perlu. Jadi, di mulut cuma ada bibir untuk membantu jalannya komunikasi, ngomong, bahasa mudahnya.

Dan lebih canggihnya, kalau dahulu robot hanya tahu apa yang diperintahkan saja, artinya menuruti apa yang di-input-kan padanya, pada tahun 2030 nantinya, robot sudah mempunyai perasaan. Jadi, nanti akan dimasukkan ke dalam drive robot suatu algoritma atau program yang bisa memunculkan ekspresi, mimik, perasaan (susah, senang, sedih, bahagia, marah, gembira, dll). Jadi jangan heran kalau nantinya akan ada robot yang memarahi manusia, robot yang menangis, bersukacita, dan bunuh diri!

robot_preacher

Hmm, kalau dilihat sekilas tampaknya robot mempunyai nilai lebih/value added ketimbang manusia. Namun, manusia tetap lebih pintar. Robot masih tetap butuh manusia. Yang pertama, ia butuh seseorang yang me-recharge karena robot hanya bisa bertahan dengan arus yang mengalir selama maksimal tiga bulan saja. Lama-lama arus listrik bisa habis kan? Meskipun sudah ada jantung yang bertugas membangkitkan arus listrik, namun lama-kelamaan jumlah arus yang berubah menjadi energi panas akan mencapai maksimal dan pada akhirnya arus akan habis dengan sendirinya. Kemudian robot juga butuh manusia sebagai programmernya. Kalau robot sedang nge-hank atau nge­-blank (hal yang biasa terjadi pada komputer pada umumnya), maka ia butuh seseorang yang tidak nge-hank untuk mengembalikannya ke bentuk dan platform semula. Manusia jualah yang nantinya akan menambah jumlah program, input data, informasi dan lain sebagainya ke dalam memory robot agar robot tidak ketinggalan zaman dan tetap uptodate.

Kalau besok robot sudah secanggih ini, jangan heran kalau nantinya akan ada pertandingan sepakbola manusia melawan robot—siapa yang menang ya. Kontes nyanyi manusia lawan robot, robot yang berprofesi sebagai artis, dan ekstrimnya, ada manusia yang jatuh cinta pada robot! Bukan hal yang tidak mungkin kalau ada pernikahan robot dengan manusia.

Ya, itu semua kan hanya khayalan dan fantasi, atau lebih tepatnya disebut ramalan perkembangan teknologi yang akan terjadi pada tahun 2030. Terjadi atau tidak siapa yang tahu, sapa sing ngerti, wer verstehen? who knows? Wallahu a’lam.

Namun satu yang harus kita ingat, meskipun nantinya akan ada robot (I’m sure it will happen) kita—manusia—sebagai creator & inventor, pencipta dan penemu robot, tidak boleh menjadi bawahan atau malah dipecundangi oleh alat buatan kita sendiri. OK!

Keep being spirited. Don’t stop creating and inventing a new thing. And remember,

Alles ist möglich, Nichts ist unmöglich

Impossible is nothing, Everything can be possible