images1

Tanpa disadari, makanan dan minuman yang selama ini menjadi santapan sehari-hari bukan hanya menawarkan pilihan yang kian banyak, tapi justru menawarkan “pembunuh” nomor wahid!

Barangkali hal itulah yang mengilhami peneliti dari UKWMS (Universitas Katholik Widya Mandala Surabaya) melakukan penelitian dan akhirnya mempublikasikan dalam “Expo Karya Wima (Widya Mandala)” di Kampus setempat pada tanggal 21-22 September 2008 lalu.

Tips mengenali makanan dan minuman yang berbahaya dan aman itu penting pada masa-masa menjelang lebaran,” kata peneliti UKWMS, Caroline, S.Si, M.Si, Apt. Ia menyampaikan, metode pengenalan paling mudah dari berbagai sudut, yakni: warna, kandungan boraks, kandungan formalin, daging gelonggongan, ayam basi, ikan basi, makanan kaleng, bahaya snack, dan bahaya kemasan plastik.

Kalau ada makanan yang warnanya mencolok dan menarik justru harus dicurigai, misalnya saus yang warnanya membekas di tangan, memungkinkan pewarna yang digunakan adalah pewarna tekstil yang dapat menyebabkan kanker,” katanya.

Untuk boraks, katanya, dapat diamati dari bakso. “Kalau kenyal atau mudah dipantulkan, seperti bola karet, maka berarti banyak mengandung boraks. Bisa juga dari tanda-tanda gigitan yang kembali ke bentuk semula setelah digigit,” katanya.

Sebaliknya, katanya, tahu putih yang terlalu keras justru patut dicurigai mengandung formalin. “Kalau tahu kuning yang keras, kami belum melakukan penelitian, tapi kalau tahu putih yang tidak lembek dapat diduga ada kandungan formalin di dalamnya,” ucapnya.

meat224Tentang daging gelonggongan (daging yang diisi air), dosen FF (Fakultas Farmasi) ini mengatakan daging seperti itu dapat dikenali dari air yang menetes bila digantung. “Jadi, pilih saja daging yang digantung. Kalau ada air yang menetes berarti daging gelonggongan. Cara lain mengenali dari warna daging yang asli masih segar dan serat-serat di dalam daging juga tidak menggelembung, “katanya. Harga yang tidak wajar juga merupakan pertanda. “Harga daging yang wajar itu Rp 54 ribu perkilogram, nah, kalau harganya lebih murah dari itu berarti patut dicurigai sebagai daging gelonggongan.”

Kalau daging ayam, bagaimana cara mengenali daging ayam dari ayam yang mati? “Daging ayam yang masih segar itu berwarna agak kekuning-kuningan, kalau warnanya putih bersih justru dimungkinkan dari bekas ayam mati, apalagi kalau ada warna biru seperti bekas memar serta bau sangat amis,” katanya. Bahkan katanya, ada pula daging ayam yang direndam formalin agar awet. “Kita dapat mengenali daging ayam berformalin dengan menekan atau mendorongnya dengan jari telunjuk. Kalau keluar lendir atau air berarti penuh dengan formalin,” katanya.

Namun, katanya formalin dalam makanan juga dapat dihilangkan.”Caranya makanan yang mencurigakan itu direndam dengan air panas sekitar 30 menit atau dipanaskan dengan oven bersuhu 121o C selama tiga menit. Kalau ikan dapat direndam dengan air cuka 5% selama 15 menit, atau direndam dalam air garam selama 30 menit untuk ikan asin,” ungkapnya.

Lain halnya cara mengenali ikan basi. “Kalau ditekan justru lembek, warna insang tampak merah tua, atau mata ikan justru terlihat bening, maka cirinya ikan itu basi atau diberi formalin. Paling mudah ya beli saja ikan yang masih ada tanda-tanda hidup,” katanya.

Caroline juga menyarankan agar masyarakat jangan membeli makanan kaleng yang kemasan kalengnya sudah penyok. “Kaleng yang penyok akan mengubah konsentrasi dalam kemasan, karena kaleng penyok dapat mengandung racun akibat adanya kandungan botulimun (bahan dasar kosmetik). Kalau mau aman ya dipanaskan seperti ikan atau dibakar agar racunnya mati. Biasanya supermarket justru memberi diskon.”images2

Untuk snack yang banyak disukai anak-anak, katanya, justru perlu dilihat komposisi warnanya dan nomor registrasi. “Kalau warna-warnanya mencolok atau tanggal produksinya kadaluarsa justru berbahaya,” katanya.

Satu lagi bahaya yang sering tidak disadari adalah kemasan dari plastik, styrofoam, dan melamin. “Kalau kemasan itu diisi dengan bakso panas, soto panas, teh panas, dan makanan atau minuman serba panas akan dapat menyebabkan kanker,” ungkapnya.