hajj-farewell

Memang haji merupakan dambaan setiap insan beriman, hal ini bukan karena ingin meningkatkan status sosial di masyarakat dengan memproleh gelar haji semata, tetapi lebih banyak didorong oleh motivasi agama, yakni meraih janji Allah yang akan melebur semua dosa dan memasukkannya ke surga.

Bila seseorang sudah mempunyai kemampuan melaksanakan ibadah haji namun dia tidak mau menjalankannya berarti ia telah menyia-nyiakan anugerah dari Allah atau dengan kata lain dia telah mengkufuri nikmat Allah swt. Karenanya Allah mengancam orang tersebut dengan ancaman yang sangat berat. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa ada beka dan kendaraan yang bisa mengantarnya menuju Baitullah, namun ia tidak mau berhaji, maka jangan heran bila ia nanti mati dalam keadaan sebagai Yahudi dan Nasrani.” (H.R. Turmudzi)

Namun di sisi lain, ada kalanya seseorang mempunyai keinginan kuat untuk pergi haji dan umrah, namun karena kondisi keuangan, fisik, atau perjalanan yang tidak memungkinkan, maka ia tidak bisa melaksanakannya. Dalam keadaan seperti ini, ia dituntut untuk bersabar, memasrahkan semuanya kepada Allah swt. dan terus berusaha untuk menggapai cita-cita mulia memenuhi panggilan Allah swt.

Diceritakan bahwa pada zaman Rasul ada beberapa sahabat yang tidak bisa ikut berjihad melawan tentara musyrikin karena kondisi mereka tidak memungkinkan untuk ikut berperang, baik karena tidak ada harta untuk pembiayaan perang, sakit, cacat, maupun sudah sangat tua, mereka sangat sedih dengan kondisi mereka itu, ada penyesalan yang mendalam karena mereka tidak bisa ikut berjuang bersama Rasulullah saw.

Dalam kondisi seperti ini, Allah swt. Berfirman, “Orang-orang yang lemah dan orang-orang yang sakit, begitu juga dengan orang-orang yang tidak ada harta untuk dibelanjakan, tidak berdosa jika mereka tidak ikut berperang, jika mereka memang benar-benar jujur kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada alasan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu.’ Lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.” (Q.S. At Taubah: 91-92)

Perasaan orang yang belum mampu menjalankan ibadah haji dan umrah karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan atau kondisi keuangan yang terbatas mungkin sama dengan perasaan para sahabat yang tidak mampu ikut berperang sebagaimana diterangkan dalam kedua ayat di atas. Mereka sedih karena tidak sanggup memenuhi perintah dan panggilan Allah swt. Hati mereka merintih dan mata mereka berlinang air mata.

Namun Allah swt. Maha Bijaksana dan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia tidak memaksakan suatu kewajiban kepada hamba-Nya di luar batas kemampuan yang dimilikinya. Dia memberi keringanan kepada orang yang tidak mampu menjalankan perintah-perintah-Nya asalkan hati orang tersebut penuh dengan keimanan, tawakkal, dan niat kuat untuk melakukan kebajikan maka orang tersebut akan dinilai oleh Allah swt. sebagai orang yang baik (muhsinin).

Lebih dari itu, atas rahmat dan kasih sayang-Nya, Allah juga menetap-kan beberapa amal ibadah yang mempunyai pahala seperti pahala haji dan umrah, yang bisa dilakukan oleh siapa pun baik oleh yang sudah melakukan haji dan umrah maupun yang belum, dan dapat dilakukan di mana pun. Tentunya ini merupakan berita gembira yang menyejukkan jiwa para hamba.

Banyak amal perbuatan yang mempunyai pahala haji dan umrah. Sebagian berupa ibahad mahdlah, yaitu ibadah yang berhubungan langsung dengan Allah swt. dan sebagian lagi berupa ibadah ghairu mahdlah, yaitu ibahah yang di samping berhubungan dengan Allah juga berhubungan erat dengan sikap kita kepada sesama makhluk.

Berdasarkan Hadist Rasulullah saw. di antara amal perbuatan tersebut antara lain adalah:

1. Shalat Berjama’ah,

Barangsiapa berjalan untuk melakukan shalat wajib berjamaah maka ia bagaikan orang yang berhaji.” (H.R. Thabraniy)

2. Mengajar dan Menuntut Ilmu,

Barangsiapa pergi ke Masjid, dan di hatinya tidak ada niat kecuali ingin mempelajari kebajikan atau mengajarkan kebajikan maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berhaji.” (H.R. Thabraniy)

3. Shalat Dhuha,

Di sisi Allah,pahala dua reka’at Shalat Dhuha menyamai pahala haji dan umrah.” (H.R. Abu Syaih)

4. Berbakti Kepada Kedua Orang Tua,

Ada seorang lelaki menghadap Rasulullah saw. dan berkata kepada Beliau, ‘Sesungguhnya saya ingin ikut berjihad, namun saya tidak mampu.’ Rasulullah saw. bertanya kepada lelaki itu, ‘Apakah di antara kedua orang tuamu ada yang masih hidup?’ Lelaki itu menjawab, ‘Ibu saya masih hidup.’ Kemudian Rasulullah saw. bersabda, ‘Berjuanglah karena Allah dengan cara bersikap baik kepada ibumu. Bila kamu melaksanakan-nya maka kamu (bagaikan) orang yang haji, umrah, dan juga berjihad.’ ” (H.R. Abu Ya’la dan Thabraniy)

5. Menolong Orang Lain,

Barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya yang muslim maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahalanya orang yang berhaji dan umrah.” (H.R. Al-Khatib)

Bukan pengganti kewajiban

Amal-amal perbuatan tersebut di atas bukanlah sebagai pengganti ibadah haji dan umrah. Sehingga tidak bisa dipahami orang yang belum pergi haji tidak perlu menjalankan ibadah haji, karena sudah mengerjakan amalan-amalan yang berpahala ibadah haji. Mereka tetap harus terus mempunyai tekad untuk menjalankan rukun Islam yang kelima tersebut sembari terus melaksanakan amalan-amalan tersebut. Malah lebih bagus lagi bila orang yang sudah pergi haji dan umrah menjalankan amalan-amalan tersebut. Hal ini bisa mengindikasikan kalau ibadah hajinya bisa dikatakan haji yang mabrur. Amin.

Orang yang mau melaksanakan amal-amal ibadah tersebut dengan baik akan mendapatkan kebahagiaan dan keselamatan. Akal pikirannya sehat, hatinya tenteram, dan hubunganya dengan sesama manusia harmonis. Dengan kata lain pahala haji dan umrah yang disematkan pada amal-amal perbuatan mulia ini adalah untuk menambah daya tarik bagi insan yang beriman supaya mereka semakin giat menjalankannya. Betapa penting dan bermanfaatnya amal-amal perbuatan tersebut bagi kehidupan manusia, sampai-sampai Allah menetapkan pahala yang agung untuk amal perbuatan itu.

Atas dasar itu semua maka amal-amal perbuatan berpahala haji dan umrah di atas hendaknya menjadi perhatian setiap insan beriman baik yang sudah haji dan umrah maupun yang belum dengan cara mengamalkannya dengan baik dan sungguh-sungguh sehingga orang yang belum berhaji dan umrah mendapatkan pahala haji dan umrah. Dan orang yang sudah berhaji dan berumrah, amal tersebut bisa sebagai bukti kemabruran hajinya.

Wallahu a’lam bish shawab