Stereotip  bahwa  Islam adalah agama  yang penuh  kekerasan, disebarkan dengan peperangan serta agama terbelakang melekat kuat pada pikiran orang-orang barat. Hal ini karena mereka tidak  memahami Islam secara benar. Sejarah tentang Islam dipenuhi oleh pendapat-pendapat para orientalis yang tendensius. Pemberitaan terhadap Islam pun penuh dengan propaganda negatif.

Buku ”Menyingkap FITNAH & TEROR” yang ditulis Hj.Irena Handono ini merupakan karya besar beliau yang kedua setelah buku ISLAM DIHUJAT  yang mencapai best seller pada pertengahan tahun 2003 hingga 2005. Hanya dalam kurun waktu yang demikian singkat, buku “ISLAM DIHUJAT” mampu menembus angka 14 kali naik cetak.

Kali ini dalam buku ”Menyingkap FITNAH & TEROR”, Hj.Irena berusaha menggali kembali sejarah Islam yang terpendam, termasuk mengungkap apa alasan dari kebencian kaum musyrikin (Kristen dan Yahudi) pada Islam hingga Allah SWT mencantumkan secara khusus dalam Al Quran, surah Al-Baqarah ayat 120 yang merupakan peringatan bagi ummat Islam sepanjang zaman untuk waspada.

Buku ini berisi tentang kondisi umat Islam yang selalu mendapat fitnah dan teror mulai dari zaman Rasulullah Muhammad saw hingga kondisi kekinian. Salah satu teror yang melanda kaum muslimin hari ini adalah melalui pemikiran. Musuh-musuh Islam berusaha memasukkan pemikiran-pemikiran Barat ke dalam tubuh umat Islam. Hal ini terjadi pula di negeri Indonesia dimana mayoritas penduduknya muslim. Masyarakat Indonesia sudah banyak teracuni ide dan pemikiran Barat yang diemban oleh negara Amerika Serikat dan sekutunya. “Bahkan kita lebih Amerika dibanding Amerika sendiri,” ujar mantan biarawati itu.

Di awal tulisan bab pertama, beliau kutip disana Pidato Paus Urbanus II yang membakar semangat rakyat masa itu untuk merebut Yerusalem dari tangan muslim. Kalau kita simak, ternyata apa yang disampaikan Paus Urbanus II memang sangat provokatif, penuh dengan nada kebencian terhadap muslim dan penuh fitnah. Sama sekali tidak ada niatan religius. Yang justru ada adalah
kalimat, ”Negeri kalian telah  padat  penduduknya, … Tak banyak kekayaan di sini, dan tanahnya jarang membuahkan hasil pangan yang cukup buat kalian … Bergegaslah menuju Makam Kudus, rebutlah kembali negeri itu dari orang-orang jahat, dan  jadikan  milik  kalian.” Lalu Paus Urabanus II memberangkatkan 300.000 agresor salib dengan semboyan Deus le Volt (begitulah perintah Tuhan) menuju Yerusalem. Rupanya itulah esensi sesungguhnya dari ”Perang Suci” yang dikobarkan oleh Paus Urbanus II. Penguasaan kekayaan atas suatu wilayah. Dan ide ini di kloning oleh George Walker Bush ketika keceplosan mengatakan, ”Crusade!” sesaat setelah tragedi 911.

Dalam buku ini juga dibahas oleh beliau perang demi perang di mana Amerika Serikat terlibat di dalamya, bisa dikatakan hampir dalam semua perang, AS ikut campur. Yang kemudian diikuti oleh sejumlah kepentingan politik dan penguasaan sumber alam suatu negara. AS bertempur dalam Perang Dunia I karena ingin meruntuhkan Khilafah Utsmani. Dalam Perang Dunia II mereka mengumpankan Peral Harbour kepada Jepang. Mereka juga terlibat dalam perang di Korea, Vietnam, Irak, dan Afghanistan. Mereka juga ingin menghajar Korea Utara dan Iran. Semua untuk mempertahankan posisi mereka sebagai negara super power, menjual senjata dan merampok minyak di Timur Tengah.

Data-data akurat, fakta-fakta yang terabaikan beliau susun kembali secara runut dan dipaparkan gamblang, sehingga ketika awal membaca ada kesan buku ini ”keras”. Namun berikutnya dikupas bagaimana keagungan Islam, bagaimana Islam masa Rasulullah menghadapi FITNAH & TEROR. Dan akhirnya tentang bagaimana FITNAH & TEROR abad milenium yang sedang kita rasakan saat ini.

Buku ini patut dibaca bagi ummat Islam maupun non-Islam, karena disinilah sejarah berusaha didudukkan sebagaimana mestinya tanpa di tutup-tutupi oleh opini yang menyesatkan.