“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (Q.S. An Nisa`: 1)

Sahabat, tahukah tentang sesuatu yang paling cepat dapat mendatangkan kebaikan ataupun sebaliknya, membuahkan kejahatan? “Sesuatu yang paling cepat dapat mendatangkan kebaikan”, sabda Rasulullah s.a.w., “adalah balasan (pahala) orang yang berbuat kebajikan dan menghubungkan tali silaturahmi, sedangkan yang paling cepat mendatangkan kejahatan adalah balasan (siksaan) orang yang berbuat jahat dan memutuskan hubungan kekeluargaan.” (H.R. Ibnu Majah). Berbicara tentang silaturahmi, tidak hanya membatasinya dengan sekadar saling bersalaman menyentuhkan tangan atau permohonan maaf. Akan tetapi, lebih jauh dari pada itu kita harus berbicara secara lebih hakiki, yakni tentang suatu kekuatan mental dan kemampuan yang tinggi dari hati manusia.
Hal ini sesuai dengan asal kata dari silaturahmi itu sendiri, yakni shilat atau washi yang berarti menyambungkan atau menghimpun dan ar-rahim yang berarti kasih sayang.


Pengertian menyambungkan adalah suatu proses aktif mengubah dari sesuatu yang asalnya tidak tersambung menjadi tersambung. Sedang menghimpun biasanya mengandung makna mengubah dari sesuatu yang bercerai-berai dan berantakan, menjadi sesuatu yang bersatu dan utuh kembali. Dalam hal ini Rasulullah s.a.w bersabda, “Yang disebut bersilaturrahmi itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturrahmi itu adalah menyambungkan apa yang terputus.” (H.R. Bukhori)
Oleh karena itu, adalah teramat penting bagi umat untuk tidak hanya merekayasa gerak-gerik tubuh dalam bersilaturahmi tersebut, namun haruslah benar-benar bersungguh-sungguh menata hati agar mempunyai kekuatan untuk bisa berbuat lebih baik dan lebih bermutu lagi dari pada apa yang dilakukan oleh orang terhadap kita.
Kalau ada orang berkunjung kepada kita dan kita balas mengunjunginya, ini tidak memerlukan kekuatan mental yang tinggi karena bisa jadi hal itu dilakukan karena kita merasa berhutang. Akan tetapi, ada orang yang tidak pernah bersilaturrahmi kepada kita, lalu dengan sengaja kita kunjungi walaupun harus menempuh jarak yang cukup jauh dan memakan waktu, maka inilah yang disebut silaturahmi. Apalagi kalau ada orang yang membenci kita, lalu kita upayakan untuk menemuinya. Padahal jelas hak-hak kita pernah terambil atau hati kita sempat terlukai. Di sinilah kekuatan silaturahmi yang sebenarnya.
Pada suatu kesempatan Rasulullah s.a.w memberikan tausiyah kepada sahabatnya, “Hendaklah kalian mengharapkan kemuliaan dari Allah.” “Apakah yang dimaksud itu ya Rasulullah?” tanya sahabat. Rasulullah kemudian bersabda lagi, “Yaitu hendaknya kalian suka menghubungkan tali silaturahmi kepada orang yang telah memutuskan engkau, memberikan sesuatu (hadiah) kepada orang yang tidak pernah memberi sesuatu kepada engkau, dan hendaknya engkau bersabar (jangan lekas marah) kepada orang yang menganggap kamu bodoh.” (H.R. Al Hakim)