Sepanjang peradaban manusia, agaknya puasa sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan itu sendiri. Dalam riwayat Nabi Adam AS misalnya, sejarah membuktikan dalm rentan waktu kurang lebih seribu tahun Adam harus berpisah dengan Hawa dan harus mencari dengan akal dan fisiknya keberadaan Hawa tersebut. Dalam proses pencarian tersebut, kendati Allah sudah membekali rasio tetapi secara fisik dan psikis Adam harus berjuang sendiri dalam menemukan Hawa.

Perjuangan inilah yang sesungguhnya merupakan cikal bakal puasa. Secara fisik barang-kali Adam tidak atau belum diperintah Allah untuk menahan lapar dan haus. Tetapi Adam sudah dilengkapi dengan nafsu, maka ia mau tak mau harus menahan (baca: puasa) nafsu seks. Secara psikis Adam—di satu sisi—harus pula menahan berbagai tekanan mental, keganasan alam, jarak tempuh, dan sebagainya. Dan di sisi lain Adam tetap harus konsisten dengan semua perintah Allah SWT.

Pada zaman kerajaan, apabila seorang raja sedang menghadapi berbagai persoalan, baik persoalan yang menyangkut wilayah kerajaan mupun masalah pribadinya, maka sang raja tersebut segera saja menuju sanggar pamelangan untuk melakukan semedi guna mendapat petunjuk dari dewa. Ketika berada di sanggar pamelangan sang raja harus praktis menahan nafsu. Nafsu makan, minum, dan seks, hal mana dalam mitologi jawa dengan menahan babahan hawa sanga.

Kemudian, ketika Islam hadir dengan konsep rukun Islam, Rasulullah Muhammad SAW adalah sosok manusia pertama yang menyoroti perihal puasa dengan segala kemaslahatannya. Eksistensi puasa yang dipre-sentasikan Muhammad SAW terbukti telah melintasi batas teritorial negara-negara di dunia, melintasi dimensi agama-agama samawi yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya, dalam era puasa modern menurut Islam telah menembus batas akal manusia. Betapa tidak, kalau kita analisis, menu-rut Islam mengandung dimensi yang sangat luas cakupannya antara lain:

Pertama, destruktif, artinya dengan berpuasa kita telah menghancurkan segala bentuk nafsu manusiawi yang menghalangi pro-ses beribadah kita selama ini. Sepanjang dua belas bulan Allah telah mewajibkan umat Islam untuk mensucikan diri, menghancurkan model dan bentuk nafsu manusia yang begitu indah yakni dengan berpuasa. Filosofi ini sangat dalam dan luas. Ia tidak bisa dipahami dengan mengerti wacana tentang Islam, tetapi harus dilihat dari perspektif yang berlainan. Seorang ulama praktis akan melihat puasa dengan dasar kaidah-kaidah Islam. Berbeda dengan raja misalnya, ia melihat puasa lantaran untuk menambah kesabaran dalm mengelola kerajaan dan sebagainya.

Kedua, konstruktif. Puasa merupakan serangkaian aktifitas manusia guna membangun suatu sifat disiplin. Tidak saja disiplin dalam pola makan, melainkan dalam dimensi yang lebih luas puasa merupakan upoaya untuk mendisiplinkan waktu beribadah, sebuah upaya untuk mendisiplinkan sikap moral, suatu model dan sarana komunikasi verbal dan langsung antara manusia dengan Allah. Sebab dengan puasa Allah mengajak manusia untuk kembali mengingat tentang eksistensi manusia, tentang berbagai kekurangan dan kelemahan yang disandang manusia, arogsnsi dan takabur, riya dan ‘ujub serta ego.

Dsinilah letak sifat Maha Pengasih Allah terhadap ciptaan-Nya. Dia tetap tidak membiarkan manusia terus menerus bergelimang dengan dosa dan kesalahan. Dan dengan puasa inilah Allah menegur agar umat manusia kembali membangun struktur moral dan akidahnya agar kelak bila kembali, umat manusia tidak tersesat. Subhanallah

Puasa telah dididik oleh Allah karena manusia diciptakan dengan kondisi yang serba terbatas, baik kemamapuan fisik maupun pikir-annya, maka Allah mendidik manusia agar ada satu waktu untuk mengistirahatkan fisik dan psikisnya dari segala hangar-bingar duniawi (dalam konotasi negatif) yakni dengan media puasa. Seperti halnya mesin, ia akan luluh lantak ketika tidak diistirahatkan barang sesaat. Demi-kian halnya dengan tubuh manusia. Sepanjang usia manusia, organ tubuh terus-menerus mela-kukan proses metabolisme, lambung terutama secara kontinu melakukan gerakan peristaltik..

Pada saat puasa itulah, spare part tubuh manusia mengalami pembaruan, renovasi, dan pergantian. Kita sendiri sebagai manusia—sering—tidak mengerti tentang kondidi tubuh sendiri, tetapi dengan sifat Maha Penyayangnya, Allah mendidik manusia untuk selalu membuka buku panduan agar lebih memahami betapa Allah telah menciptakan tubuh manusia dengan struktur yang sangat sempurna.

Keempat, imperative. Puasa merupakan salah satu tiang dalam akidah Islam. Ia merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh umat Islam (yang mampu secara fisik dan psikis serta tidak terhalang dengan suatu kondisi tertentu) yang nyaris tidak bisa ditawar-tawar lagi. Betapa tidak, di siang hari, kendati sudah terikat dengan ikatan perkawinan yang sah, suami-istri tidak diperbolehkan berhubungan badan selama bulan Ramadhan.

Hal ini menunjukkan betapa perintah Allah harus benar-benar ditaati tanpa reserve. Sebab, bukan berarti Allah kejam, tetapi justru manusialah yang akan memetik keuntungan dari perintah Allah ini. Dengan demikian kebersihan dzahir dan batin manusia benar-benar diukur oleh Allah dengan parameter ketaatan dan ketakwaan dalam menjalankan ibadah puasa.

Kelima, stimulatif. Manusia hendaknya merasa terangsang untuk menjalankan puasa dengan tawaddlu`, qana’ah, dan tuma`ninah. Te-rangsang untuk menjalankan ibadah puasa lan-taran terstimualsi dengan janji Allah. Padahal ki-ta tahu Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya. Dengan puasa, Allah tidak saja menjanji-kan bahwa dosa dan noda yang melekat pada lahir dan batin manusia akan dilebur, juga dihin-darkan dari neraka, melainkan Allah juga men-janjikan surga ada manusia yang menjalankan ibadah puasa dengan ikhlas, tanpa pamrih, dan hanya untuk mendapatkan ridlo Allah semata.

Puasa itu sehat

Puasa Bisa Meningkatkan Kesehatan

Untuk itu, cobalah kita bertanya pada diri-sendiri, siapakah yang tidak ingin tinggal di surga kelak setelah kita kembali? Namun, dalam perkembangan perabadan manusia kemudian muncul berbagai alasan pembenaran untuk meninggalkan ibadah puasa. Manusia sering mencari-cari kelemahan dan pernik-pernik kecil tentang puasa dalam bentangan permadani raksasa Islam. Padahal Allah menciptakan manusia sudah dilengkapi dengan juklakl dan juknisnya sekalian. Namun, manusia sering berspekluasi tanpa dasar, menentang arus dan menghadang kodrat Ilahi Rabbi.

Kalau kita mau jujur, dengan menjalan-kan ibadah puasa sesungguhnya telah terkurangi sejumlah risiko penyakit yang barangkali hendak menyerang tubuh kita dan satui sisi bertambah besar investasi akhirat di sisi lainnya.

Sampai di sini, pada gilirannya manusia harus sepenuhnya mempunyai kesadaran bahwa ibadah puasa merupakan salah satu paket dari seluruh rangkaian sistem kehidupan manusia yang harus dijalankan sebagai salah satu tolok ukur ketakwaan manusia kepada Allah, sebagai salah satu barometer moral dan sebagai salah satu bentuk rasa syukur manusia karena Allah telah menciptakan manusia dengan bentuk dan model paling sempurna bila dibandingkan dengan makhluk ciptaan Allah lainnya.

Kita boleh berandai-andai, apa yang akan terjadi bila Allah tidak mengutus Rasulullah ke dunia. Maka Islam tidak akan pernah ada dan manusia tidak akan pernah mengemukakan pertanyaan seperti ini semacam ini. Bahkan—barangkali—manusia tidak akan pernah melihat perkembangan perabadan hingga melewati era millennium seperti sekarang ini. Tetapi hal ini tidak terjadi karena Allah Maha Rahman dan Maha Rahim. Allah utus Muham-mad dan Allah ridhoi Islam, semata-mata karena Allah ingin manusia kembali kelak dalam keadaan bersih, sama ketika manusia lahir ke dunia. Maha Besar Allah dengan segala firman-Nya.