Setiap bulan Ramadhan tiba, umat Islam di seluruh penjuru dunia menyambutnya dengan penuh suka cita. Tempat-tempat ibadah, rumah, sekolah, kampus, bahkan perkantoran instansi pemerintah mapun swasta semarak dengan berbagai aktivitas dan kebajikan.

Nuansa kehidupan benar-benar tampak lebih religius dibanding bulan-bulan biasa. Begitulah suasana bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh hikmah, keistimewaan, dan nilai tersendiri yang takkan dijumpai di bulan-bulan yang lain. Rasulullah saw sendiri mengibaratkan Ramadhan laksana tamu agung sehingga kedatangannya betul-betul dimuliakan dan mendapat perhatian khusus. Nabi dan para sahabat tidak menyia-nyiakan waktu sedetik pun untuk tidak melakukan amal shaleh dan dzikir kepada Allah. Bahkan ada di antara para sahabat yang rela meninggalkan urusan duniawi mereka hanya agar dapat mereguk fadhilah yang ada dalam bulan suci tersebut. Demi meraih kualifikasi insan bertaqwa sebagaimana tujuan yang disyariatkan kepada kita semua.

Urgensi Puasa

Manusia dalam mengembangkan dan mengaktualisasikan sifat-sifat Tuhan ke dalam kehidupan nyata tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Sebab manu-sia menghadapi dinding penghalang yang menghalangi yang letaknya ada di dalam dirinya, yaitu hawa nafsu. Dan nafsu secara naluri senantiasa enderung mendorong umat manusia untuk melakukan tindakan negatif dan destruktif (Q.S. 12:53).

Sesungguhnya harkat dan martabat manusia tergantung pada kesanggupannya untuk mengendalikan diri. Ketidakmampu-an manusia mengendalikan diri bisa ber-akibat fatal, sebab dapat mendegradasikan sta-tusnya sebagai manusia menjadi paralel dengan binatang, bahkan lebih rendah.

Dalam kaitan inilah puasa memiliki makna dan peran yang sangat strategis. Se-bab dari sekian banyak definisi puasa yang dikemukakan oleh ulama fikih, menun-jukkan bahwa puasa adalah menahan diri dari kedua nafsu yang pada umumnya “me-rajai“ dan memperdaya manusia, yaitu naf-su perut dan nafsu seksual. Kelihatannya definisi ini teramat sederhana, tapi sesung-guhnya jika direnungkan lebih dalam akan mengungkap persoalan yang amat esensial.

Syekh Imam Nawawi dalam tafsirnya Al Munir juz I menyatakan bahwa nafsu perut merupakan pangkal dari segala penyakit dan cacat diri, baik jasmani mau-pun rohani. Nafsu perut lazimnya diikuti nafsu seksual. Maka orang yang belum menikah disunnahkan untuk berpuasa agar terhindar dari fitnah seksual ini. Sebab de-ngan mengosongkan perut, gejolak seksual relatif lebih mudah dikontrol. Apabila ma-nusia sudah sangup me“manage” kedua nafsu tersebut, maka dengan sendirinya akan mampu menahan nafsu-nafsu derivatif berikutnya, misal nafsu keserakahan, ke-megahan, keangkuhan, iri, dan sebagainya.

Maraknya pola hidup yang cenderung konsumtif, hedonistik, egoistik, dan prag-matis sesungguhnya merupakan cerminan atas gagalnya manusia dalam mengelola kedua nafsu tersebut. Bagaimanapun, jika manusia tidak ingin hancur citra kemanu-siaannya tentu pengendalian diri merupa-kan persyaratan mutlak. Maka patut dire-nungkan ungkapan Imam Al Bushiri, “Nafsu itu ibarat anak kecil. Jika ia dibiarkan mene-tek pada ibunya, maka ia akan terus keta-gihan. Sebaliknya apabila ia disapih niscaya ia akan berhenti.”

Oleh karena puasa merupakan medi-um yang paling ampuh untuk mengingatkan manusia agar kembali pada fitrah dan kod-ratnya, maka puasa tidak hanya diwajibkan kepada umat Nabi Muhammad saja, tetapi juga kepada umat-umat sebelumnya. Hanya saja syariat atau tata caranya berbeda antara yang satu dengan lainnya.

Semoga puasa yang kita jalankan tahun ini akan sanggup menyadarkan jati diri kita dan sebagaimana mestinya kita mengisi hidup di alam yang fana ini.