Ibarat orang dalam satu perjalanan jauh, di bulan Ramadhan ini kita lagi berhenti sejenak. Berhenti dari sebuah agenda dan rutinitas harian. Pada hari-hari biasa selama sebulan dalam setahun, boleh dikatakan sebagai waktu yang bebas dari batasan-batasan seperti yang terjadi pada bulan ini. Selama sebulan penuh, kita diwajibkan berpuasa. Sejak terbit fajar hingga matahari terbenam, kita tidak boleh makan, minum, melakukan hubungan suami istri, melakukan perbuat-an-perbuatan tercela, dan lain sebagainya. Melihat normatifnya puasa, maka kata kuncinya adalah pengendalian diri. Mengendalikan hawa nafsu agar tidak liar dan berjalan sendiri semau-maunya.

Kewajiban puasa dengan menahan lapar dan dahaga di siang hari bukanlah pekerjaan yang ringan. Kemauan berlapar dan berhaus diri hanya bisa digerakkan oleh idealisme yang tinggi, yang tidak lain sebagai wujud ketaatan hamba terhadap perintah Tuhan. Hanya orang yang beriman dan bertaqwalah yang mampu menjawab dan melaksanakan perintah itu dengan tulus. Apalagi Rasulullah dalam sabdanya juga mengingatkan, “Barang siapa melakukan puasa Rama-dhan karena iman dan mengharap ridha-Nya, maka Allah mengampuni dosa-dosa sebelumnya.”

Seorang yang taqwa, tidak akan melanggar larangan-larangan dalam berpuasa, biarpun dirayu oleh siapa pun untuk membatalkannya. Sekali pun yang merayu mungkin orang yang lebih kuat atau punya kekuasaan, seperti yang terjadi pada kisah berikut ini, antara Gubernur Damaskus, Alhajjaj dengan seorang musafir,

Alhajjaj : “Saudara, marilah kita makan bersama.”

Musafir : “Aku telah diundang olehyang lebih mulia dari tuan,dan telah kupenuhi undangan itu.”

Alhajjaj : ”Siapakah gerangan yang mengundangmu?”

Musafir : “Tuhan seru sekalian alam, hari ini aku berpuasa.”

Alhajjaj : “Apakah Anda berpuasa pada hari yang terik ini?”

Musafir : “Ya, aku bahkan berpuasa pada hari-hari yang lebih terik.”

Alhajjaj : “Ayolah hari ini kita makan bersama dan besok Anda dapat berpuasa (kembal}.”

Musafir : [tersenyum] “Bila aku berbuka hari ini apakah tuan dapat menjamin usiaku berlanjut hingga esok, sehingga aku dapat berpuasa?”

Alhajjaj : “Tentu saja tidak.”

Musafir : “Kalau demikian, mengapa tuan memintaku sesuatu yang pada hari ini dan menjanjikan untuk memberikan esok, sedangkan esok bukan di tangan tuan?”

Alhajjaj : [berpikir sejenak] “Ayolah kawan, makanlah bersamaku. Makanan yang dihidangkan sungguh lezat-lezat.”

Musafir : [sambil berdiri] “Demi Tuhan, yang melezatkan hidangan ini bukan juru masak tuan, bukan pula jenis makanannya. Yang melezatkan adalah ‘afiat (kesehatan jasmani dan rohani).”

Dari dialog di atas, kita bisa memperoleh banyak pelajaran. Dari pihak gubernur Alhajjaj, dia adalah sosok pemimpin yang arogan karena kekuasaan yang dimilikinya. Dia meremehkan orang kecil seperti musafir yang menolak undangannya, bahkan juga meremehkan perintah Allah yang mewajibakan puasa. Dengan gaya yang halus, petinggi ini nampak hendak memaksakan kehendak dengan jabatan yang ada di tangannya. Sedangkan si musafir yang tergolong rakyat kecil dan tidak hidup mewah merupakan pribadi andalan dengan sikapnya yang tegas, berani, jujur, disiplin, dan kon-sisten dengan keyakinan dan aqidahnya.

Dari berbagai macam krisis yang melanda bangsa Indonesia hingga saat ini hakikatnya adalah bertumpu pada terjadinya krisis akhlak, adanya degradasi moral dan etika. Krisis kepercayaan, krisis politik, ekonomi, kepemimpinan, dan juga krisis yang lain adalah imbas dari krisis moral dan akhlak. Dari kasus di atas, sang gubernur tidak mampu menjadi teladan yang baik dalam penghayatan dan peng-alaman agama. Dia bukan seorang demokrat karena tidak mampu menerima perbedaan. Padahal semes-tinya pemimpin haruslah menjadi panutan dan sandaran rakyat dalam usaha mencapai tujuan bersama, bukan mengedepankan ambisi pribadi atau kelompok dengan mengabaikan kepentingan rakyat banyak.

Oleh karena itu, saat ini adalah momentum yang tepat bagi kita semua untuk mawas diri. Kemampuan kita untuk menyerap pelajaran dari ibadah puasa Ramadhan akan membuahkan nilai yang tinggi kepada kita, baik kita sebagai hamba Allah, sebagai mahasiswa, sebagai anggota keluarga, dan sebagai anggota masyarakat. Kemampuan yang demikian tentu akan membuat nilai puasa kita menjadi tidak sia-sia, sebagaimana sinyalemen Rasulullah bahwa banyak orang yang berpuasa namun mereka hanya mendapatkan lapar dan dahaga semata.

Puasa Ramadhan memang tidak terpisahkan dengan pembangunan akhlak, nilai-nilai moral dan karakter. Mari kita resapi lebih dalam salah satu ungkapan imam Ghazali yang mem-peringatkan kita semua akan sabda Rasulullah menurut riwayat Amr bin Syu’aib ra yang artinya:

Sesungguhnya tiap orang pasti akan menemukan kebagusan akhlaknya lantaran nilai martabat yang diperoleh karena menjalani puasa dan shalat lima waktu. Tidaklah sempurna kebagusan akhlak seseorang melainkan jika sempurna pula akal pikirannya. Hal itu benar-benar sempurna imannya. Orang yang memiliki kondisi demikian (sikap dan perilakunya) menaati Tuhannya dan melawan tantangan musuhnya ialah iblis.”

Semoga Allah swt menerima ibadah puasa kita, dan kita diberikan kekuatan serta kemampuan untuk mengaplikasikan hikmahnya dalam kehidupan sehari-hari. Amin.