Bulan Ramadhan merupakan bulan suci yang kedatangannya dinanti oleh berjuta umat muslim diseluruh penjuru negeri. Sebelum memasukinya, diperlukan banyak persiapan baik materi maupun immateri. Sejenak kita perlu renungi dan pikirkan bagaimana agar kita mampu memaknai tiap amal ibadah yang akan kita laksanakan di bulan Ramadhan. Selanjutnya kita buat perencanaan dan persiapan yang matang serta manajemen yang jitu terhadap rohani, jasma-ni, ilmu, amal, waktu, dan hawa nafsu kita agar kesempatan emas dari tiap detik berharga yang te-lah diberikan oleh Allah swt dapat kita manfaat-kan sebaik mungkin dan tidak ada yang sia-sia. Kita terapkan target yang ingin dicapai, yaitu me-raih derajat ketaqwaan atau paling tidak dosa-dosa kita dapat diampuni. Semua tentu saja butuh kerja keras dan perjuangan yang sungguh-sungguh.

Yang perlu digarisbawahi dalam menghadapi bulan Ramadhan adalah manajemen, seperti:

Rohani. Hal yang pertama kali harus kita persiapkan adalah rohani kita. Jauh-jauh hari kita biasakan diri kita melakukan puasa sunnah dan shalat malam sehingga pada bulan Ramadhan kita bisa lebih berkonsentrasi pada peningkatan kuali-tas ibadah. Sudah tidak kita pikirkan lagi rasa la-par dan haus. Kita harus bangun pagi untuk sa-hur, rasa kantuk tidak lagi menjadi masalah kare-na kita sudah terbiasa. Di saat orang lain baru me-nyesuaikan jadwal tidur dan bangun, kita sudah khusyuk bermunajat kepada Allah. Kemudian kita sucikan hati kita dari kotoran dunia yang berbau syirik, iri, dengki, hasut, dan takabur. Kita bersih-kan kaca lampu hati kita agar jernih sehingga mampu menangkap cahaya yang terang yang akhirnya ikut terang pula hati dan jiwa raga kita.

Jasmani. Hal lain yang sangat berkaitan dengan rohani dan perlu mendapat perhatian khu-sus dari kita adalah persiapan jasmani. Agar ketika Ramadhan tiba, kondisi fisik kita dalam keadaan sehat wal afiat sehingga kita bisa beribadah dengan khusyuk. Berkaitan dengan manajemen rohani, perlu kita pertanyakan pada diri kita masing-masing, sudah siapkah panca indera kita untuk berpuasa?

Kita kendalikan lidah kita dari ucapan yang sia-sia, dari kata-kata bohong, menggunjing, mencela orang, dsb. Kita basahi dengan dzikir dan selalu bersyukur serta beristighfar kepada Allah. Mata pun wajib kita kendalikan dan kita tutup rapat dari hal-hal yang dilarang dan diharamkan. Dengan begitu hati kita pu menjadi bersih, tenang, dan tenteram sehingga bertambah keimanan kita.

Kemudian, telinga yang sudah terbiasa mendengar ayat-ayat suci Alquran dan pengajian-pengajian, akan lebih bisa menjauhkan pemiliknya dari perilaku-perilaku yang menyimpang, godaan syetan, dan pikiran-pikiran yang mengarah pada dosa. Perut kita belum bisa dikatakan berpuasa ke-tika masih dimasuki makanan-makan-an yang ha-ram, makanan yang diperoleh dari jalan riba, ko-rupsi, menipu, dsb. Sungguh itu hanya akan mem-buat hati kita mengeras dan meredup cahayanya.

Ilmu. Agar segala amal ibadah kita didasari dengan landasan yang kuat, dan tidak hanya ikut-ikutan saja apa yang dikatakan dan dikerjakan orang, maka kita perlu mempelajari ilmunya. Dengan ilmulah kita mengetahui apa yang menjadi rukun dan syarat sahnya puasa. Hal-hal apa saja yang dibolehkan dan apa saja yang diharamkan, hal-hal apa saja yang membatalkan dan merusak puasa, sekaligus amalan apa saja yang diutamakan pada bulan Ramadhan.

Amal. Pada bulan Ramadhan kita diberi kesempatan untuk berdagang dengan Allah dengan keuntungan yang berlipat ganda, serta tidak ada istilah rugi bagi siapa saja yang ikhlas menjalankannya. Tergantung pada diri kita masing-masing, mampukah kita memanfaatkan waktu singkat satu bulan ini untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Kalau perlu, kita bisa buat daftar amalan yang akan kita laksanakan untuk kemudian kita adakan muhasabah (koreksi), apakah sudah cukup amalan kita, pertahankan, atau harus kita tambah lagi. Kemudian hal yang perlu kita lakukan namun seringkali luput dari pehatian kita adalah pengadaan tabungan Ramadhan. Kita bisa kumpulkan uang untuk kemudian kita infaq-kan pada bulan Ramadhan. Seperti halnya ibadah haji, banyak dari kita yang mempersiapkannya dengan tabungan haji, namun kebanyakan kita belum mempunyai tabungan Ramadhan.

Waktu. Mengingat begitu singkatnya waktu Ramadhan, maka kita dituntut untuk pandai-pandai mengelolanya. Kita bisa manfaatkan waktu fajar untuk membaca dan menghafal ayat-ayat Alquran, berdzikir, dan merenung akan keagungan Allah. Lalu pagi sampai siang atau sore kita isi dengan kegiatan akademik kita (ngampus). Kalau masih ada waktu di sore hari kita bisa membaca buku-buku yang bermanfaat, mendengarkan pengajian atau pun menghadiri majelis taklim. Malamnya kita istirahat sebentar untuk kemudian kita melaksanakan shalat tarawih, berdzikir, dan sebisa mungkin mendekatkan diri kepada Allah. Dan sehabis shalat tarawih kita bisa mengerjakan tugas-tugas yang belum kita selesaikan. Namun kesemuanya di atas hanyalah contoh belaka, kita bisa saja mengatur jadwal kita sendiri asal jangan lupa antara agama dan duniawi kita dahulukan agama, mengingat ini bulan Ramadhan.

Jangan lupa pula sebelum matahari terbenam, ketika rasa lapar demikian mendekat, bibir dan tenggorokan terasa kering, ketika itulah saat teragung bagi kita untuk memanjatkan doa, memohon sesuatu kepada Allah. Karena pada saat itu Allah memberikan hak pinta kepada orang yang berpuasa yang telah mengikhlaskan diri menahan semua hawa nafsunya di siang hari. Sayang tidak banyak orang yang menyadari hal ini. Kebanyakan orang lebih berkonsentrasi pada hidangan yang disediakan untuk berbuka, dan cenderung melakukan aksi “balas dendam” ketika telah dihalalkan baginya makan dan minum. Sangat sedikit orang yang mau berpikir, merenung, dan memaknai teguk demi teguk air yang diminumnya.

Hawa nafsu. Suasana kondusif pada bulan Ramadhan membantu kita untuk mengendalikan segala hawa nafsu kita. Kecenderungan orang untuk berbuat baik pada bulan itu lebih besar dari biasanya. Akan tetapi, ada juga orang yang tidak peduli akan kehadiran Ramadhan. Kemaksiatan tetap saja mereka lakukan. Hendaknya kita jaga agar jangan sampai rapor kita banyak nilai merahnya yang disebabkan dosa dan kemaksiatan yang masih kita lakukan. Kita kendalikan betul nafsu amarah dan ketika kita berbuka pun kita masih dituntut untuk mengendalikan nafsu yang berlebih-lebihan. Padahal Allah telah berfirman, “Makan dan minumlah kamu, dan janganlah berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” Akan lebih indah kalau makanan kita yang berlebihan itu kita bagikan kepada orang yang lebih membutuhkan, seperti yang telah dipesankan Rasulullah saw menjelang bulan Ramadhan.