“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula sekumpulan wanita (mengolok-olok) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita (yang diolok-olok) itu lebih baik dari wanita-wanita (yang diolok-olok), dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri, dan jangan kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman. Dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al Hujurat: 11)

Diriwayatkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan tingkah laku kabilah Bani Tamim yang pernah berkunjung kepada Rasulullah SAW, lalu mereka memperolok-olok beberapa sahabat yang fakir miskin, seperti: Ammar, Shuhaib, Bilal, Khabbab, Salman Al Farisi, dan lain-lain karena pakaian mereka yang sangat sederhana. Ada pula yang mengemukakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan kisah Shofiyah binti Huyay bin Akhtab yang pernah datang menghadap Rasulullah SAW yang melaporkan bahwa beberapa wanita di Madinah pernah menegur dia dengan kata-kata yang menyakitkan, seperti: Hai perempuan Yahudi, keturunan Yahudi, dan lain sebagainya. Atas dasar ini Rasulullah bersabda, “Mengapa tidak engkau jawab saja ayahku Nabi Harun, pamanku Nabi Musa dan suamiku Muhammad.”

Pada ayat ini Allah SWT memperingatkan orang-orang beriman supaya jangan ada suatu kaum yang mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang diolok-olok itu jauh lebih mulia di sisi Allah dari pada mereka yang mengolok-olok. Demikian pula di kalangan kaum wanita, jangan ada yang mengolok-olok wanita yang lain, karena boleh jadi wanita yang diolok-olok lebih mulia dan terhormat di sisi Allah dari pada yang mengolok-olok. Allah juga melarang orang-orang beriman dari perbuatan mencela kaum sendiri, karena orang-orang beriman semua dipandang sebagai suatu tubuh yang diikat dengan kesatuan dan persatuan sesama orang-orang beriman. Mencela kaum mukminin sebagai suatu komunitas berarti mencela diri-sendiri. Allah pada ayat ini juga melarang saling memanggil dengan panggilan atau gelar-gelar yang buruk, seperti panggilan: hai fasik, hai kafir, dan sebaganya padahal yang dipanggil adalah orang-orang yang beriman.

Disebutkan dalam sebuah Atsar, “Kadang-kadang ada seorang yang pakaiannya sangat sederhana, kepalanya penuh debu, membawa dua kantung, oleh kebanyakan orang dia tidak dipedulikan, tetapi jika ia bersumpah kepada Allah, maka Allah pasti akan memenuhi sumpahnya.” Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah diceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupamu dan harta kekayaanmu, akan tetapi yang Allah pandang adalah hati dan amal perbuatanmu.”

Hadist ini memberikan isyarat bahwa seorang hamba Allah hendaknya jangan memastikan kebaikan atau keburukan seseorang semata-mata karena melihat kepada perilaku dan sikap lahiriyyahnya saja, sebab kemungkinan seorang tampak mengerjakan suatu kebaikan, sementara dalam hatinya ada sifat tercela yang dapat menghapuskan amal kebaikan yang ia lakukan, maka, kebaikan yang ia lakukan tidak bermakna apa-apa. Demikian juga sebaliknya, belum tentu penampilan seseorang yang secara lahiriyyah kurang menyakinkan, mungkin justru lebih bermakna di sisi Allah karena keikhlasan dan kebersihan hatinya. Menakar kebaikan seseorang di sisi Allah tidaklah cukup hanya menilai dari perilaku dan sikapnya yang secara lahiriyyah dapat terlihat oleh mata kepala kita.

Karena itu pulalah Allah melarang orang-orang beriman memanggil sesamanya dengan panggilan dan gelar yang buruk setelah mereka beriman. Menurut riwayat, ketika Rasulullah tiba di Madinah, kebanyakan orang-orang Anshar mempunyai nama lebih dari satu, dan jika mereka memanggil sesamanya, seringkali mereka dipanggil dengan gelar panggilan yang tidak disukainya. Maka turunlah ayat ini sebagai teguran terhadap kebiasaan mereka.

Ibnu Jarir, meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat ini beliau menjelaskan tentang seorang laki-laki yang pada masa mudanya pernah mengerjakan suatu keburukan dan banyak diketahui oleh sanak saudara dan teman-temannya, tetapi setelah ia menjadi seorang beriman, ia bertaubat dan ia tinggalkan kebiasaan buruk tersebut. Namun teman-temannya tetap memanggil dengan panggilan yang terkait dengan keburukan yang pernah dilakukannya. Maka turunlah ayat ini yang melarang siapa pun menyebut-nyebut lagi keburukannya di masa lalu, karena itu hal yang tidak baik, membangkit-bangkitkan kefasikan setelah beriman.

Ada gelar-gelar panggilan yang diperbolehkan, yaitu gelar-gelar yang mengandung penghormat-an, seperti Ash Shidiq pada Abu Bakar, Al Faruq pada Umar bin Khattab, Dzun Nurrain kepada Utsman, Abu Thurab kepada Ali, Syaifullah pada Khalid bin Walib, dan lain sebagainya.

Wallahu a’lam bish shawab.