Sudah luruskah arah qiblatku? Pertanyaan inilah yang sering muncul pada saat kita melaksanakan ibadah shalat, baik di masjid, mushalla, surau, maupun di rumah. Karena terkadang secara sadar atau tidak, sengaja atau tidak, kita shalat tidak menghadap ke arah qiblat.

Biasanya, masalah ini banyak yang menganggap sepele. Mestinya, kalau kita cermati, ketidaklurusan kita menghadap qiblat akan mengakibatkan kita mengarah ke daerah atau bahkan ke negara lain. Karena salah satu derajat saja, kalau kita tarik terus lurus ke arah Ka’bah akan meleset jauh dan bisa mencapai ribuan kilometer jauhnya. Dan oleh karena itu, shalat kita tidak akan menjadi sah karena tidak memenuhi syarat sah shalat, yakni menghadap qiblat.

Secara ijma’ menghadap qiblat hukumnya wajib. Hanya yang menjadi permasalahannya adalah apakah harus persis menghadap ke Baitullah atau boleh ke arah taksirannya saja. Dalam hal ini perlu kita pahami bahwa agama Islam bukanlah agama yang sulit dan memberatkan, sebagaimana firman Allah swt dalam Q.S. Al Baqarah: 286. Apalagi berkaitan dengan menghadap qiblat dan lafal syatrah yang berarti arah.

Karena itu, bagi yang langsung dapat melihat Ka’bah, wajib berusaha agar dapat menghadap persis ke arah Ka’bah. Untuk yang tidak bisa melihat secara langsung, mereka wajib menghadap ke arah yang terdekat (taksirannya).

Untuk mendapatkan keyakinan dan kemantapan amal ibadah kita, maka harus dengan ainul yaqin atau mendekati—atau bahkan sampai—haqqul yaqin bahwa dalam shalat kita menghadap ke arah yang benar, yakni ke arah Baitullah.

Dalam penentuan arah qiblat, banyak metode yang telah digunakan dan telah teruji secara akurat, seperti dengan penentuan azimuth qiblat, kalkulator qiblat, dan yang paling canggih adalah dengan theodolite atau Global Positioning System (GPS). Nah, bagaimana dengan cara tradisional? Kita sudah mendengar kalau dahulu digunakan sistem bayang-bayang matahari dan diterapkan pada garis bujur dan garis lintang Makkah. Kemudian ada kompas, yang hanya bisa menentukan ancer-ancer saja, karena sebelumnya harus ada koreksi terlebih dahulu terhadap alat itu, karena bisa terpengaruh oleh gravitasi bumi dan medan magnetik. Dan secara garis besar, arah qiblat untuk Kabupaten Kudus adalah 24° 21 ‘ 49 ” (baca: 24 derajat 21 menit 49 detik) dari arah barat ke arah utara. Selain itu, metode kuno namun akurat adalah dengan rashdul qiblat setiap tanggal 28 Mei pukul 16.17 WIB tepat atau tiap tanggal 16 Juli pukul 16.26 WIB tepat. Semua benda yang tegak lurus akan menghadap qiblat.

Oleh karena itu, dalam menentkan arah qiblat masjid, mushalla, surau, dan lainnya haruslah menggunakan metode yang akurat atau meminta bantuan tokoh agama yang benar-benar ahli tentang astronomi (ilmu falak), tidak dengan asal-asalan, sehingga kita bisa dengan yakin dan mantab dalam shalat.

Wallahu a’lam bish shawab.