Puasa mempunyai banyak manfaat kejiwaan, sebab puasa merupakan pendidikan dan pelurusan jiwa dan tubuh. Ini karena tidak diperbolehkannya makan dan minum dari sebelum fajar hingga terbenamnya matahari pada semua hari di bulan Ramadhan merupakan latihan bagi manusia dalam melawan dan menundukkan hawa nafsunya.

Berlangsungnya latihan mengendalikan dan mengatasi hawa nafsu sebulan penuh setiap tahunnya ini, tak syak lagi akan mengajari manusia untuk mempunyai kehendak yang kuat dan kemauan yang teguh, tidak hanya dalam mengendalikan hawa nafsu saja, tetapi juga dalam tingkah laku nuraninya dalam kehidupan, dalam melaksanakan tanggung jawabnya, melakukan kewajibannya, dan menjalankan segala pekerjaan. Selain itu, puasa juga merupa-kan pendidikan bagi hati sanubari manusia di mana dengan puasa itu manusia menjadi selalu konsisten dengan tingkah laku yang baik dan terpercaya, dengan kendali hati sanubarinya sendiri tanpa membutuhkan pengawasan dari siapa pun.

Puasa juga merupakan latihan bagi manusia untuk bersabar dalam menahan lapar, haus, dan mencegah hawa nafsu. Selanjutnya, kesabaran yang dipelajari dari puasa ini akan diterapkannya dalam seluruh aspek kehidupannya. Maka ia pun akan belajar bersabar dalam menanggung beratnya upaya memperoleh rezeki, tidak enaknya jatuh sakit, dan berbagai kelezatan dan kenikmatan kehidupan. Dan kesabaran merupakan tidakan terpuji dan diperintahkan Allah kepada manusia untuk menjadikannya sebagai perhiasan. Sebab ia merupakan penolong terbaik baginya dalam menanggung derita perjuangan dalam kehidupan, mendidik diri melawan hawa nafsunya.

Manfaat puasa secara ritual memang suatu ibadah yang setiap orang menjalankannya akan mendapatkan imbalan berlipat ganda. Namun itu pun belumlah cukup manakala pada diri seorang yang menjalankannya tidak ada sense of social-nya. Belum ada maknanya bagi seorang yang sedang berpuasa ketika melihat saudaranya atau tetangganya mengalami kelaparan, kurang gizi, putus sekolah ia diam saja. Maka, diharapkan puasa secara sosial adalah puasa yang memiliki nilai-nilai sosial dalam perilaku kehidupan sehingga dapat diraih kesempurnaan keberagamannya.

Di antara manfaat yang lain—secara psikis—dari puasa ialah membuat manusia merasa berkecukupan meskipun ia sedang kelaparan. Pun menimbulkan dalam dirinya perasaan belas kasih terhadap orang-orang miskin. Sehingga ini akan mendorongnya berbuat baik kepada mereka. Hal ini akan membuat kuatnya semangat kerja sama, solidaritas, dan integrasi sosial dalam masyarakat. Di samping manfaat-manfaat psikis di atas, puasa juga mempunyai manfaat-manfaat medis dan terapi dari berbagai penyakit fisik. Sebagaimana diketahui, kesehatan fisik manusia besar pengaruhnya terhadap kesehatan jiwanya.

Di bulan Ramadhan yang merupakan bulan yang penuh rahmat, maghfiroh, serta pintu taubat dibuka lebar-lebar oleh Allah swt bagi yang ingin dibersihkan dari dosa-dosa yang menempel pada dirinya, Alquran pun membekali pada diri kita dengan suatu metode yang unik dan berhasil dalam menyembuhkan perasaan dosa, yaitu metode taubat. Sebab, taubat kepada Allah akan membuat diampuninya berbagai dosa dan menguatkan dalam diri manusia harapan akan ridha Allah, sehingga ini akan meredakan kegelisahannya. Kemudian lagi, taubat biasanya mendorong manusia untuk memperbaiki dirinya dan meluruskannya sehingga tidak lagi terjerumus dalam kesalahan.

Hal ini akan membuat meningkatnya penghargaan dan kepercayaan terhadap diri sen-diri, penerimaan diri, dan menimbulkan perasaan tenang dan tenteram dalam jiwa. Inilah ha-rapan di bulan yang penuh maghfiroh ini. Kita jalankan dengan penuh keikhlasan bahwa pu-asa yang dijalankan dengan penuh pengharapan dapat mengobati jiwa yang sedang gersang serta kegalauan hidup dapat teratasi lewat puasa yang benar-benar mengharap ridho Allah.

Selain itu, puasa juga melatih kita untuk sabar, sabar menahan nafsu, makan, minum, sabar dari menahan semua indera yang dilakukan untuk maksiat. Sebab, seorang yang ber-hiaskan kesabaran, ia dapat mendidik diri, memperkuat kepribadian, meningkatkan kemam-puan manusia dalam menanggung kesulitan, memperbarui tenaganya dalam menghadapi ber-bagai problem dan beban kehidupan serta bencana dan cobaan masalah, dan juga mem-bangkitkan kemampuannya dalam melanjutkan perjuangan demi menegakkan kalimatullah.

Sabar dalam menjalankan puasa bagi seorang mukmin ialah tidak terlalu sedih sewaktu ia tertimpa cobaan. Pun tidak menjadi lemah saat tertimpa bencana atau musibah. Allah telah memberitahukan bahwa segala musibah yang menimpa dalam hidup ini tidak lain hanyalah cobaan dari Allah agar Ia tahu siapakah si antara hambanya yang termasuk orang yang sabar.

Kesabaran dalam puasa mengajari manusia ketangguhan dalam bekerja dan berupaya untuk merealisasikan tujuan-tujuan praktis dan ilmiahnya. Sebab, sebagian besar tujuan manusia dalam kehidupan, baik di lapangan kehidupan praktis-terapan, sosial, ekonomis, maupun politis, membutuhkan banyak waktu dan upaya agar semua itu bisa tercapai dan ter-realisasi. Oleh karena itu, ketangguhan dalam mencurahkan tenaga dan kesabaran dalam bekerja dan meneliti merupakan sifat-sifat penting yang diperlukan untuk bisa berhasil dalam mencapai tujuan tersebut.

Kesabaran dan ketangguhan erat kaitannya dengan kehendak yang kuat. Seorang yang sabar adalah seorang yang mempunyai kehendak yang kuat. Meskipun ia menghadapi berbagai kesulitan dan hambatan, kemauannya tidaklah melemah dan citanya tidak memudar. Kehendak yang kuat membuat manusia bisa melaksanakan pekerjaan-pekerjaan besar dan merealisasikan tujuan-tujuan yang tinggi.

Puasa yang kita jalankan dengan kesungguhan akan menumbuhkan benih-benih ke-sabaran dan kita telah belajar dalam menanggung derita kehidupan dan bencana. Puasa juga melatih kita bersabar dalam menahan cobaan dan permusuhan orang, bersabar dalam me-nyembah dan menaati Allah, dan dalam melawan berbagai hawa nafsu dan dorongannya, ber-sabar dalam bekerja dan berproduksi, maka ia menjadi seorang manusia yang mempunyai ke-pribadian yang matang seimbang, produktif, dan aktif. Bagi yang berpuasa dengan kesabaran, menjadi terhindar dari kegelisahan dan terlindung dari berbagai gangguan kejiwaan.

Seorang mukmin yang berpuasa harus dibiasakan untuk mengingat Allah, baik dengan mengucapkan tasbih, takbir, istigfar, doa, maupun dengan membaca Alquran. Ini akan mem-buat jiwa bersih dan bening serta perasaannya tenang dan tenteram. Sabda Rasulullah saw, “Ingat akan Allah adalah penawar kalbu.” Serta sabdanya pula, “Suatu kaum yang berkumpul dan mengingati Allah, pastilah akan disambut oleh para malaikat pun memenuhi mereka dengan rahmat-Nya dan menurunkan ketenteraman. Dan Allah pun akan ingat akan mereka.”

Maka dengan demikian, dalam setiap ibadah apa pun kita harus mempunyai nilai dan makna ibadah sosial, tidak hanya dalam puasa, termasuk juga shalat, haji, dan ibadah lainnya.