Kanker merupakan salah satu penyakit degeneratif (noninfeksi) yang membutuhkan perhatian khusus, karena sebagian besar penderita penyakit ini berakhir dengan kematian. Masih segar diingatan kita bagaimana ganasnya kanker “membunuh” artis Erna Libie dan Gito Rolies.

Di Indonesia, dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir terjadi peningkatan peringkat kanker sebagai penyebab kematian, yakni dari urutan ke-12 menjadi urutan ke-6. Diperkirakan setiap tahun terdapat 190.000 penderita baru dan seperlima di antaranya berakhir dengan kematian!

Jenis kanker yang umum menyerang adalah kanker paru-paru, lambung, payu-dara, usus, mulut, farinx, hati, serviks, oeso-fagus, prostat, ginjal, dan darah (leukimia). Faktor penyebab terjadinya kanker sebagian besar adalah karena pengaruh lingkungan dan pola makan. Sementara pergeseran pola makan tradisional akan memberikan pengaruh buruk bagi kesehatan, terutama bagi negara yang memiliki pendapatan tinggi.

Kanker terjadi pada pertumbuhan sel-sel normal melalui suatu proses kesalahan genetika yang berubah menjadi sel-sel ganas yang berpoliferasi dengan cepat. Penyakit kanker lebih mudah terjadi pada sel yang terus-menerus membelah dan memperbanyak diri, misalnya sel-sel kulit, sel epitel lambung, saluran pencernaan dan paru-paru, sebagai akibat hubungan yang sangat intens dengan lingkungan, seperti udara dan makanan. Selain dari itu, kanker juga lebih mudah dipengaruhi oleh senyawa karsiogenik (senyawa penyebab kanker).

WHO (World Health Organization) telah mencetuskan suatu slogan “back to nature”, yakni upaya mencari, meneliti, dan menggunakan bahan-bahan alami untuk mengatasi berbagai penyakit degeneratif yang banyak muncul di lingkungan masyarakat, tidak terkecuali untuk kanker.

Berbagai cara telah dilakukan manusia untuk mengatasi masalah kanker, di mana para peneliti dari berbagai bidang ilmu mulai mencoba menggunakan bahan kimia alami anti kanker yang berupa senyawa fitokimia yang banyak terdapat pada tanaman dan dikenal sebagai “cancer chemoprevention” atau pencegah kanker. Pencegahan kanker dengan senyawa fitokimia merupakan salah satu upaya meng-gunakan bahan kimia alami yang di-harapkan dapat menjadi pencegah pada tahap awal sebelum terjadi penyebaran lebih lanjut.

Kriteria pemilihan senyawa kimia yang dapat digunakan sebagai “chemoprevention” sangatlah berbeda dengan senyawa yang digunakan untuk kemoterapi. Senyawa kemo-terapi sering digunakan untuk membunuh sel, baik sel kanker maupun sel normal yang kurang sehat. Namun senyawa ini menghasil-kan pengaruh yang kurang baik bagi penderita. Sebaliknya, senyawa chemo-prevention yang digunakan sebagai anti-kanker umumnya bersifat tidak beracun dan relatif bebas dari pengaruh buruk lainnya.

Buah dan Sayur

Dari berbagai penelitian, dilaporkan bahwa mengonsumsi buah-buahan dan sayur dalam jumlah banyak ternyata dapat menurunkan risiko terjadinya kanker. Senyawa kimia pencegah kanker yang ditemukan pada tanaman di antaranya indol isothio-sianat, dithiolthion, dan organo sulfur. Dari seratus tujuh spesies tanaman yang telah diuji sebagai antikanker, spesies terbanyak berasal dari famili Zingiberaceace dan Umbeliferae.

Rimpang lengkuas merupakan salah satu sumber fitokimia yang murah dan mam-pu memberikan harapan positif dalam pencegahan timbulnya kanker. “Rimpang leng-kuas mengandung senyawa antikanker yang berupa ‘Acetoxy chavicol Acetate (ACA)’,” kata Herla Rusmarilin, peraih gelar doktor program studi Ilmu Pangan Program Pasca-sarjana Institut Pertanian Bogor (IPB), dalam disertasinya yang bertajuk “Aktifitas Anti-Kanker Ekstrak Rimpang Lengkuas Lokal (Alpina Galanga (L) Sw) Pada Alur Sel Kanker Manusia Serta Mencit yang Ditransplantasi-kan Dengan Sel Tumor Primer”.

Dari hasil penelitiannya diketahui bahwa ekstrak etil asetat lengkuas mem-punyai potensi dalam menghambat semua jenis alur sel kanker dan sel kanker primer manusia. Lebih lanjut Herla Rusmalirin men-jelaskan bahwa dosis 50 mg/kg berat badan merupakan perlakuan yang paling baik dalam menghambat pertumbuhan jaringan kanker.

Dengan semangat “back to nature” milik WHO, tidak ada salahnya kan apabila mulai kini kita menjadikan rimpang lengkuas menjadi bagian dari menu sehari-hari.