Sekilas bila melihat bentuk tumbuhan lidah buaya yang mempunyai nama populer “Aloevera” itu tampaknya cukup menakutkan, yakni panjang menjulur dan berduri di setiap pinggirnya.

wmn_1959Bentuknya memanglah menakutkan, tapi jangan tanya khasiatnya. Tanaman lidah buaya sudah dikenal dan di-budidayakan di seluruh wilayah Indonesia dengan penggunaan yang beragam pula.

Selain dikenal sebagai bahan untuk shampoo atau kepentingan bagi rambut, lidah buaya juga di-konsumsi untuk minuman kesehatan. Contoh-nya di Provinsi Kalimantan Barat, di mana ada kawasan yang khusus menyuguhkan minuman segar dari bahan lidah buaya untuk kesehatan sehingga banyak diminati oleh masyarakat.

Kini, khasiat baru muncul setelah melalui sebuah riset yang dilakukan oleh para peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB). Penguji-an secara ilmiah yang diakukan oleh Maya-sari, mahasiswi Faku-ltas Kedokteran He-wan IPB ini, meng-ungkapkan bahwa lendir daun lidah buaya ternyata mampu menyembuhkan luka dengan hasil yang memuaskan.

Riset itu menunjukkan bahwa daging lidah buaya mengandung 96% air dan 4% berbagai bahan aktif, seperti: minyak essensial, asam amino, mineral, vitamin, enzim, dan glikoprotein.

Bila diuraikan secara rinci, zat yang terkandung di dalam lidah buaya antara lain asam aspartak, serin, blutamni, treonin, isin, urosin, fenil-alamin, prelin, histidin, leosin, isoleosin, seng, besi, promium, vitamin A, B1, B2, B12, C, dan E.

Jadi, ternyata kandungan zatnya sangat komplit,” kata-nya. Berbagai penelitian lain, kini, semakin membuka khasiat lidah buaya. Pemilik nama latin Aloebarbadensis Mill ini me-ngandung aleosin dan aloemannan yang berfungsi sebagai antiradang dan anti-tumor. Ekstrak lidah buaya efektif untuk menurunkan kadar gula darah pada tikus yang mengalami diabetes.

Mayasari mengemuka-kan bahwa penggunaan lidah buaya secara oral sebanyak 100 mg/Kg tiap hari dan dalam bentuk krim (konsentrasi 25%) bisa mengurangi diameter luka. Lidah buaya juga aman digunakan pada pasien luka bakar karena mampu memper-cepat proses epitelisasi sehingga lukanya sepat sembuh.

Potensi lidah buaya sangat melimpah di Indonesia. Kami tertarik mengembangkan formulasi gel lidah buaya sebagai obat luka yang bisa dipatenkan dan dikomersilkan,” kata peneliti muda dari Depar-temen Klinik, Reproduksi dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Vetnizah Juniantito.

Penelitian yang berjudul “Aktifitas Sediaan Gel dari Ekstrak Lidah Buaya (Aloebarbadensis Mill) pada Proses Penyembuhan Luka Mencit (Mus Muculus Albinus)” itu tidak dikerjakan sendiri oleh Venitzah, melainkan bersama teman sedepartemennya, Bayu Febram Prasetyo.

Menurut Venitzah, bentuk gel dipilih sebagai bentuk sediaan karena tahan lama (tidak cepat tengik), tidak berbau, dan mempunyai penampilan menarik.

Proses pembuatan gel lidah buaya ini pun terbilang sederhana. Yakni, daun lidah buaya dicuci, dikuliti, dagingnya dikerok, dan dihaluskan dalam blender. Setelah itu dilarutkan dalam air steril larutan dihomogenisasi.

Ekstrak hasil homogen-isasi ini diendapkan serta di-campur dengan bahan dasar gel serta polgel, Trietanolamin stearat, propilenglikol, dan Nipagin.

Gelisasi ini diolah ber-dasarkan proses pembuatan sediaan farmasi yang sudah baku. Sediaan olahan gelisasi lidah buaya tersebut diujikan pada mencit.

Sebanyak 45 mencit dihabiskan Venitzah dan bayu dalam uji coba penelitiannya. Mencit tersebut dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu kelompok I sebagai kontrol (mencit yang dilukai tanpa diobati), kemudian kelompok II, mencit yang dilukai dan diobati dengan obat luka komersial Bio-placenton, dan kelompok ter-akhir adalah mecit yang dilukai dan diobati dengan gel lidah buaya.

Hasilnya, terdapat perbedaan yang cukup men-colok antara ketiga kelompok tersebut.

Luka mencit pada kelompok II dan III cepat sembuh. Dan yang sangat menggembirakan formu-lasi gel lidah buaya yang dipakai mempunyai efektivitas yang sama dengan obat luka komersial.

Berdasarkan penelitian kami, gel lidah buaya sangatlah potensial untuk dikembangkan menjadi obat paten yang dikomersialkan di masa depan,” kata Venitzah Juniantito.