Permisi, di mana…pak lurah [membuka kamus] rumah?” tanya seorang pemuda asing yang tidak lancar berbahasa Indonesia pada seorang betawi asli yang tidak bisa berbahasa Inggris. Orang betawi itu pun berpikir sejanak dan tak lama kemudian menjawab dengan logat khas betawinya, “Ooo rumah pak lurah? Itu noh, tidak jauh dari sini, mari saya antar mister,” jawabnya sambil menawarkan diri.

Kutipan cerita di atas merupakan penggalan adegan dari Sinetron Bule Masuk Kampung yang pernah tayang pada salah satu televisi swasta nasional. Cerita di atas sebenarnya cukup memberikan banyak informasi kepada kita tentang “kemudahan” berbahasa asing. Dikisahkan dalam sinetron tersebut kalau sang pemuda asing dapat “hidup” dan bergaul serta berkomunikasi secara wajar dengan di tengah-tengah masyarakat yang sangat asing baginya.

“Kemudahan” mempelajari bahasa asing sesungguhnya terletak pada kiat seseorang untuk membiasa-kan, because language is habit. Berarti kemampuan berbahasa seseorang dapat diukur dari intensitas peng-gunaannya. Semakin sering seseorang melafalkan kosakata dalam bahasa tertentu, maka semakin lancar pulalah seseorang mempergunakannya.

Dengan demikian mafhum mukhalajah dari membiasakan diri terhadap penggunaan bahasa tertentu adalah kemampuan seseorang untuk menjadikan lingkungannya seolah-olah seperti lingkungan di mana bahasa tersebut diberlakukan. Atau istilahnya mengubah lingkungan yang pada dasarnya kurang kondusif menjadi lebih kondusif.

Indikasi yang diharapkan dari penciptaan lingkungan yang kondusif adalah terbiasanya penerapan bahasa asing tersebut dalam segenap aspek badaniyah, khususnya panca indera. Semisal, ketika seseorang menonton film berbahasa Inggris, maka mata akan terbiasa melihat gestured, telinga terbiasa mendengar isyarat verbal, mulut, tangan, dan anggota badan lain akan terbiasa mengucapkan perkataan dari sang aktor/akris dan/atau meme-rankan adegan di film tersebut, dan yang terjadi kemudian otak akan mengolahnya sedemikian hingga terjadi proses familierisasi sekaligus akumulasi timbunan kosakata.

Membiasakan diri dengan bahasa asing memanglah tidak semudah membalik telapak tangan. Banyak di antara mereka—orang yang belajar bahasa asing—gagal di tengah jalan. Kegagalan tersebut sebagai akibat dari beberapa faktor, baik internal maupun eksternal.

Faktor yang pertama adalah MOTIVASI. Mayoritas orang yang gagal dalam mempelajari bahasa asing terletak pada ketidakbisaannya me-nemukan motivasi. So, siapa pun yang ingin berhasil maka hal yang pertama dilakukan adalah menemukan suatu motivasi yang mempengaruhinya. Tanyakan pada diri sendiri, “Apa tujuanku belajar bahasa asing?” Hendaklah motivasi itu terpancang kuat dalam diri dan sanubari!

Kedua, FOKUS & FUN. Fokus berarti memprioritaskan suatu hal dari pada yang lain. Fokus dan perhatian adalah jalan yang harus ditempuh seseorang bila benar-benar menginginkan tujuannya tercapai. Fokus cenderung pada kinerja otak, pemaksimalan kierja otak tergantung pada suasana yang dibuat. Yaitu suasana merasa betah berbahsa asing. Dan di sinilah pentingnya suasana senang/fun. Dengan demikian, hal penting yang harus diperhatikan adalah bagaimana agar memperlajari bahasa asing dapat terkondisikan menjadi lebih asyik, enjoy, dan fun.

Fun merupakan modal yang sangat berharga agar seseorang mampu memfokuskan diri secara kontinu tanpa dihinggapi rasa bosan.

Ketiga, BERANI. Keberanian untuk mempraktikkan adalah modal yang ketiga. Kebanyakan para pem-belajar yang gagal adalah mereka yang merasa malu dan takut untuk men-coba. Bayangan yang biasanya muncul adalah sebuah kesalahan, takut diter-tawakan, dikatakan sombong, dan bayangan jelek lainnya. Padahal kalau benar-benar ingin mecoba, ketakutan itu menjadi tidak beralasan.

Keempat, SERIUS. Kesalah-an yang paling konyol dan paling sering dilakukan oleh pebelajar adalah menertawakan diri sendiri. Anggaplah Anda telah bisa dan katakan pada diri Anda bahwa Anda benar-benar serus belajar. Penertawaan diri biasanya dikareakan berbagai hal, seperti: tata-bahasa (grammari), kurangnya kosa-kata (vocabulary), dan pelafalan (pronounciation) yang kurang tepat.

Seriuslah untuk mempelajari bahasa asing. Jangan pernah ada kata takut. Jangan pernah merasa kalimat yang Anda katakan tidak dimengerti oleh lawan bicara Anda.

Dalam berkomunikasi, bahasa dipahami tidak hanya sebatas teks, tetapi konteks juga memegang peran-an penting. Mungkin benar, jika teks memegang peranan baku, teks men-jadi kunci benar atau salahnya sebuah kalimat. Akan tetapi, dalam sebuah komunikasi antarmanusia, yang di-butuhkan bukanlah salah atau benar, tetapi mengerti atau tidaknya lawan bicara kita. Alhasil, insan berkomu-nikasi bukanlah hanya sekadar mem-baca teks belaka, namun juga “mem-baca” informasi secara kontekstual. Hanya dengan mengerti sedikit kata yang diucapkan oleh seorang asing, ia sudah secara alamiah mengerti maksud dan arah pernyataannya.

Kelima, NOW! Kebanyakan mereka yang gagal dan harapan mereka dapat lancar berbahasa asing hanya sebatas angan dan sekadar harapan adalah karena mereka tidak memulainya. Bagaimana mungkin sebuah harapan akan terlaksana jika terus-menerus dilamunkan dan tidak pernah dikerjakan? Bukankah itu sebuah kemustahilan yang nyata?

Kelima hal di atas kiranya pantas untuk diperhatikan bagi Anda yang benar-benar ingin dapat mempergunakan bahasa asing