Seorang peneliti di Inggris menemukan bahwa kromosom “X” terkait erat dengan penyebab autisme, suatu penyim-pangan dalam otak yang dialami oleh jutaan orang di dunia.

Menurut Prof. David Skuse dari Lembaga Kesehatan Anak Inggris, bagian dari otak yang berfungsi untuk membaca ekspresi di wajah orang dan dipengaruhi oleh kromosom “X”, dapat memberikan suatu pandangan baru yang sangat berarti berkaitan dengan penyebab penyakit tersebut.

Kami belum menemukan penyebab autisme, tetapi dalam kromosom ‘X’ kami mungkin menemukan mekanisme yang mengarah pada suatu penyebab,” katanya pada Konferensi Tahunan Asosiasi Inggris untuk Kemajuan Ilmu Pengetahuan.

Data terbaru dari Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa satu dari 150 orang di AS menderita autisme, yakni penyakit yang menyebabkan penderita tidak mampu bersosialsasi dengan lingkungan sekitarnya, dan jumlah penderita penyakit tersebut meningkat lebih dari sepuluh persen per tahunnya.

Skuse mengatakan bahwa pria memiliki peluang sepuluh kali lebih besar dibanding wanita untuk mengalami autis-me, karena pria memiliki satu kromosom “X” sedang wanita memiliki dua kromosom “X”. “Wanita yang menderita sindrom Turner, yakni mereka yang hanya memiliki satu kromosom ‘X’ juga ditemukan memiliki tingkat autisme lebih tinggi dibandingkan teman mereka yang memiliki dua kromo-som ‘X’,” katanya. Skuse mengatakan, kuncinya terletak di “amygdala”, bagian otak yang terlibat secara langsung dalam memproses ekspresi emosional, yang terlihat pada wajah orang lain.

Pada sebagian orang, ekspresi wajah segera ditempatkan dalam konteksnya de-ngan bantuan “amygdala”, seperti mata ter-buka lebar yang disertai dengan ketakutan dan kegembiraan yang diinterpretasikan secara benar atau pada umumnya. Namun pada penderita autisme, “amygdala” tidak berfungsi dengan tepat, sehingga seluruh ekspresi diintrepetasikan dengan ketakutan.

Hal itu menjelaskan mengapa penderita autisme jarang melakukan kontak mata,” ujar Skuse. Ia mengatakan, wanita dengan dua kromosom “X” yang berfungsi secara normal memiliki “amygdala” yang berfungsi normal sepenuhnya, sedangkan mereka yang hanya memiliki satu kromo-som “X” memiliki fungsi pengenalan eks-presi yang buruk. Namun pada pria, kromo-som “Y” mungkin menggantikan bagian inti dari kehilangan kromosom “X”. Jika tidak, maka “amygdala” tidak akan berfungsi dengan baik.

Kini kami memiliki bukti mekanis-me syaraf yang masuk akal yang menempat-kan anak laki-laki dalm risiko,” kata Skuse. Meskipun wilayah umum kromosom ”X” yang mempengaruhi “amygdala” telah diisolasi, hal itu masih terlalu luas dan memerlukan pekerjaan dengan waktu lama untuk menemukan secara tepat gen apa yang menjadi penyebabnya.