Ibnu Taimiyah di samping dikenal sebagai seorang yang ahli di bidang hukum Islam—dengan julukan Syaihul Islam—ia juga dikenal sebagai sufi besar pada masanya.

Menurut Ibnu Taimiyah, dosa akan diampuni oleh Allah melalui sepuluh perkara.
Pertama dengan taubat kepada Allah sehingga Allah menerima taubatnya.
Kedua dengan istighfar, yaitu memohon ampun kepada Allah, sehingga Allah mengampuninya.
Ketiga, dengan melakukan amal kebajikan, karena dengan amal kebajikan dapat menghapuskan kesalahan.
Keempat, karena doa orang beriman yang mendoakan kepadanya, baik ketika ia masih hidup atau sesudah mati.
Kelima, dengan memberikan pahala kepada orang atas amal yang bermanfaat.
Keenam, karena syafaat Nabi Muhammad saw.
Ketujuh, karena cobaan Allah berupa musibah di dunia sehingga cobaan itu menjadi tebusan bagi dosa-dosanya.
Kedelapan, karena penderitaan yang dialami di alam barzah (alam kubur).
Kesembilan, karena penderitaan di hari kiamat.
Kesepuluh, semata-mata karena kasih sayang Allah swt.

Bukan hanya luasnya kasih sayang Allah atas hamba-Nya yang berupa ampunan dari dosa yang telah dikemukakan di atas, tetapi Ibnu Taimiyah juga menyampaikan pendapat yang sangat unik mengenai taubat ini. Pendapatnya ialah bahwa dosa seorang hamba akan diampuni oleh Allah dengan sendirinya tanpa ia meminta ampunan kecuali dosa syirik. Dosa ini hanya bisa dihapuskan dengan taubat kepada Allah.
Beliau beralasan dan berpegang pada firman Allah, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik) dan Ia mengampuni ada (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (Q.S. An Nisa`: 48). Ayat lain yang menjadi rujukan Ibnu Taimiyah antara lain, ”…wahai hamba-hamba-Ku yang melampuai batas terhadap diri mereka sendiri. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Az Zumar: 53).

Secara sederhana pengertian taubat ialah kembali kepada Allah atau membersihkan diri dari segala kotoran. Karena pada hakekat sebenarnya manusia adalah fitrah, suci atau bersih dari dosa, dari kotoran. Kullu mauludin yuladu ‘ala al fitrah (setiap manusia pada dasarnya adalah suci).

Di dalam pergaulan di kehidupan jagad raya ini, manusia telah melakukan berbagai hal yang termasuk dosa dan salah, baik terhadap sesama manusia atau makhluk Allah lainnya, atau pun terhadap Allah sendiri yaitu dalam mengerjakan berbagai macam pelanggaran. Pada posisi kesadaran dalam hatinya dan kemudian direalisasikan dalam tindakan konkrit inilah yang disebut taubat.
Adapula yang menyebutkan bahwa taubat adalah penyesalan dari apa yang telah dikerjakan yang membuat pihak lain merasa dirugikan oleh polah tingkahnya yang selanjutnya menuntut pengembalian seperti semula dengan cara penyesalan. Sehingga ada yang merumuskan bahwa taubat itu meliputi aspek-aspek: meninggalkan perbuatan dosa (kesalahan), atau penyesalan, memohon ampun kepada Allah (bila dosa atau salahnya kepada Allah), atau memohon maaf kepada yang disalahi (bila salah kepada sesama manusia), dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan salahnya tersebut.

(lebih…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.