Saat ini kolesterol dianggap sebagai ancaman bagi kesehatan tubuh manusia karena komponen lemak itu merupakan penyebab dari berbagai macam penyakit.  Apabila jumlah kolesterol dalam tubuh berlebih, maka ia akan tertimbun dalam dinding-dinding pembuluh darah dan menimbulkan aterosklerosis, yakni penyempitan atau pengerasan pembuluh darah yang merupakan cikal bakal timbul-nya penyakit jantung dan stroke. Karena itulah para praktisi medis dan pakar obat tradisional kemudian ter-dorong untuk mencari cara yang efektif untuk meluruhkan kelebihan kolesterol dalam tubuh manusia.

Metode yang banyak dikembangkan karena dianggap tidak mengakibatkan efek samping yang membahayakan adalah peng-gunaan tanaman obat tradisional. Salah satu tanaman obat yang telah terbukti dapat menurunkan kadar kolesterol tubuh yang berlebih akibat pola makan yang salah adalah Curcuma xanthorrhiza atau yang lebih populer dikenal sebagai temulawak. Rimpang temulawak mengandung beberapa zat warna, seperti zat kuning yang disebut kurkuminoid, kemudian minyak atsiri, yang menyebabkan bau dan rasa khas, dan juga zat yang berwarna coklat kehitaman dan lengket yang disebut resin.

Dari ketiga zat tersebut, menurut ahli obat herbal Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada (UGM), Dr. Suwijiyo Pramono, DEA, Apt., hanya kurkuminoid-lah yang dapat menurunkan kadar kolesterol tubuh dalam jumlah yang signifikan.

“Minyak atsiri justru menimbulkan efek yang berlawanan karena dapat meningkatkan nafsu makan, sedangkan resin merupakan zat yang tidak larut dalam air dan tidak menyehatkan,” kata ahli farmasi itu. Oleh karena itu, untuk mendapatkan efek yang diinginkan, kedua zat tersebut harus dihilangkan dari ekstrak temulawak yang sudah dibuat melalui proses purifikasi (pemurnian). “Setelah ekstrak temulawak itu dimurnikan, baru dibuat sediaan kurku-minoid dalam bentuk kapsul terstandar supaya kadarnya stabil,” ujarnya.

Menurut Pramono, berdasarkan hasil uji klinis yang dilakukan terhadap delapan puluh persen pasien rawat jalan dengan kadar kolesterol lebih dari 200 mg/dl, pemberian dua kapsul ekstrak temulawak terpurifikasi dengan kadar kurkuminoid 20,67 % dua kali sehari selama tiga puluh hari dapat menurunkan kolesterol total hingga 18,25 %. Walaupun tidak dapat menaikkan kadar HDL (High Density Lippoprotein) atau “lemak baik”, namun, kata Pramono, pemberian ekstrak temulawak tersebut dapat menurunkan kadar LDL (Low Density Lippoprotein) atau yang sering disebut dengan “lemak jahat”.

Tidak Ada Efek Samping

Staf pengajar di Fakultas Farmasi UGM itu menjelaskan pula bahwa ber-dasar hasil uji klinis pemberian kapsul ekstrak temulawak termurnikan selama satu bulan tidak menimbulkan efek samping yang berarti. “Pemberian ekstrak temulawak tidak menyebabkan kelainan organ vital atau jaringan dan tidak mempengaruhi per-tambahan berat badan,” ujarnya. Efek keracunan atau efek negatif yang membahayakan, kata dia, juga tidak ditemukan pada pemberian ekstrak temu-lawak per oral dari dosis kecil hingga besar. Namun sebelum digunakan secara luas oleh masyarakat, dia menyarankan agar kapsul ekstrak rimpang temulawak itu diuji lagi secara klinis dengan lebih banyak pasien.

Pramono juga menyarankan agar penelitian tentang pembuatan bentuk sediaan ekstrak temulawak yang lebih nyaman dikonsumsi seperti dalam bentuk cairan, serbuk instan, atau tablet eferfesens. “Tapi tentu dengan tetap men-jaga efek terapetiknya,” kata pakar obat tradisional itu. Ia juga mengatakan bahwa peneliti-an lebih lanjut tentang cara pembuatan ekstrak temulawak yang sederhana dan murah lebih banyak dilakukan agar metode tersebut selanjutnya bisa diadopsi oleh masyarakat luas.

Well, kita tunggu saja.